Masuk

Atlas Digital Geografi Spiritual

Para Wali

1113 catatan · Halaman 8/47

Dikenang di Jumadil Awal

Wali yang haul wafatnya jatuh pada bulan Hijriah ini (bersumber).

Wali

Fatih Ahmed Baba

Seorang sufi-pejuang setengah legendaris yang dikenang lewat makam dan masjidnya di situs Göllübağ, Harput; secara populer juga dikenal sebagai 'Fetamet/Fethi Ahmet'. Menurut tradisi ia lahir di Balkh, menempuh jalan tasawuf, dan ikut dalam pertempuran penaklukan Anatolia; menurut prasasti pada peti kayunya ia wafat pada 713 H/1313 (syahid saat perebutan kembali Harput). Evliya Çelebi dalam Seyahatname-nya menyebut tekkenya sebagai 'biara agung'. Rincian biografinya bersifat legendaris dan tidak ada entri TDV modern; namun makam itu adalah aset budaya terdaftar dan tanggal wafatnya terdokumentasi oleh prasasti peti. Makam ini terutama diziarahi oleh mereka yang mendambakan anak. (Sumber: harput.web.tr; Kültür Envanteri; artikel akademik Dergipark tentang makam Fatih Ahmet Baba.)

ElazığWafat 713 HLihat
Wali

Sayyid Mahmud Samini

Seorang syaikh Naqsyabandi-Khalidi yang dibesarkan di Palu (1812-1896); ia berkhidmat kepada Syaikh Ali Septi selama tiga belas tahun, mencapai maqam rohani tinggi, dan menjadi khalifahnya. Sepeninggal gurunya ia melanjutkan bimbingan rohani di Palu dan sekitarnya, dan cabang 'Saminiyah' dari Naqsyabandiyah dinamai menurut namanya. Ia wafat sekitar 1896 (1314 H); makamnya, di Pemakaman lama Palu (Meydan) di tepi utara Sungai Murat sebelah timur Palu, berupa bangunan bata berlapis keramik dengan kubah kerucut berlapis tembaga. Cucunya Şehid Sadeddin Efendi juga dimakamkan di makam itu. (Sumber: ehlisunnetbuyukleri.com; evliyalar.net; Dergipark 'Seorang Syaikh Khalidi di Palu: Mahmud Samini'.)

ElazığWafat 1314 HLihat
Wali

Sayyid Mansur Baba

Sebuah tempat ziarah di Harput yang ditandai oleh makam dua lantai berdenah segi delapan di kawasan Cami-i Kebir (barat laut Masjid Sara Hatun). Menurut tradisi Mansur Baba adalah putra Arslan Baba, guru Ahmad Yasawi, dan atas wasiat ayahnya dibesarkan dalam asuhan Ahmad Yasawi sebelum datang ke Anatolia bersama suku-suku Turkmen. Karena 'zawiyah Mansur Baba' tercatat sebagai wakaf dalam register kadaster abad ke-16 (1518, 1523, 1566), bangunan itu terbukti sebagai zawiyah/ziarah bersejarah; namun identitas dan tanggal wafat sang tokoh bersandar pada tradisi, dan sebagian kenotaf di lantai bawah juga diduga milik dinasti Artukid. Karena itu dicatat secara transparan sebagai identitas/kepastian makam yang diperselisihkan. (Sumber: Kültür Portalı; harput.web.tr; register kadaster Harput abad ke-16.)

ElazığLihat
Wali

Syaikh Ali Septi (Khwaja Ali as-Sabti)

Syaikh pendiri tarekat Naqsyabandi-Khalidi di kawasan Palu, Elazığ (sekitar 1785-1871), salah satu khalifah utama Mawlana Khalid al-Baghdadi. Sekitar 1830, atas petunjuk Mawlana Khalid, ia datang ke Palu dan memulai bimbingan rohani; pengaruh tekkenya menyebar hingga Diyarbekir, Harput, Erzurum, dan Bitlis, dan Mahmud Samini bertahun-tahun berguru kepadanya. Setelah hidup lebih dari sembilan puluh tahun ia wafat pada 1871; makamnya berdiri di bukit yang menghadap distrik Palu di seberang Sungai Murat, tempat ia dimakamkan bersama putranya Syaikh Mehmed Efendi. Ia berperan sentral dalam penyebaran tarekat Khalidi di kawasan itu. (Sumber: Jurnal Akademiar 2018/4; Direktorat Kebudayaan dan Pariwisata Elazığ; evliyalar.net.)

ElazığWafat 1288 HLihat
Wali

Ankuzu Baba

Seorang derwis-pejuang legendaris yang dikenang lewat makamnya di puncak batu-batu Ankuzu sekitar 7-8 km utara Harput. Menurut tradisi ia syahid saat penaklukan Harput dalam kampanye penaklukan Anatolia, jasadnya tetap tak membusuk di sebuah gua selama bertahun-tahun; kini ia dimakamkan di kawasan itu, makamnya di samping tekke dan masjid yang dibangun Beyzade Efendi (1810-1904). Identitas persis dan tanggal wafatnya tidak dapat didokumentasikan (satu tradisi menyebutnya prajurit dalam perang Arab-Bizantium abad ke-8/9); karena itu dicatat secara transparan sebagai identitas/kepastian makam yang diperselisihkan. Lokasinya, salah satu titik tertinggi di kawasan itu, juga dikenal sebagai tempat ziarah dan rekreasi. (Sumber: harput.web.tr; evliyalar.net; Günışığı Gazetesi.)

ElazığLihat
Wali

Sayyid Muhammad Qattal

Sebuah tempat ziarah di desa Kartaldere (dahulu 'Şeyhkatülan') di utara kota Gezin, distrik Maden, Elazığ, ditandai kompleks yang terdiri dari makam, wisma tamu, masjid, dan dapur. Menurut lempeng marmer di dinding makam ia termasuk keturunan Nabi, nasabnya disambungkan hingga Imam Husain; tradisi menyebutkan ia syahid dalam sebuah pertempuran pada masa penyebaran Islam di Anatolia dan dimakamkan di sini (nama lama desa berarti 'syaikh yang terbunuh'). Karena informasi tentang makam dan tanggal wafat bersandar pada tradisi lokal dan lempeng itu, ia dicatat secara transparan sebagai maqam yang kepastian makamnya diperselisihkan dan tidak dapat dipastikan oleh dokumen sejarah tepercaya. (Sumber: evliyalar.net; Elazığ Fırat Gazetesi; survei tempat ziarah Elazığ, arsip Harput Universitas Fırat.)

ElazığLihat
Wali

Şuhudi Efendi

Seorang syekh Mevlevi dan penyair dari Muğla. Putra (menurut satu riwayat putra rohani) dari mistikus-penyair terkenal Şâhidî İbrâhim Dede, ia menerima pendidikan pertamanya dari ayahnya. Sepeninggal ayahnya, ia menjadi postnishin di loji Mevlevi Muğla (Masjid Şahidi sekarang) selama lebih dari empat puluh tahun, berperan aktif menyebarkan tarekat Mevlevi di Muğla. Ia wafat tahun 1591-1592 (1000 H). Ia dimakamkan di makam dalam halaman Masjid Şahidi; para sarjana memperdebatkan apakah makam di samping ayahnya Hüdâyî Efendi milik Şâhidî Efendi atau Şuhûdî Efendi, dan karena Şâhidî sendiri dimakamkan di loji Mevlevi Afyon-Karahisar, banyak peneliti menyatakan makam ini milik Şuhûdî Efendi.

MuğlaWafat 1000 HLihat
Wali

Syekh Bedreddin dari Bukhara

Seorang wali yang makamnya berada di desa Şenköy di Milas, dikenal secara lokal dengan gelar 'Horasan Eri' (Pahlawan Khorasan). Sumber-sumber menyebutnya sebagai khalifah dari Syekh Muhammed Buhârî yang wafat di Bursa; menurut riwayat lain ia dianggap menantu Bayezid I. Menurut tradisi, ia datang ke daerah itu bersama pasukannya dan gugur syahid dalam pertempuran lalu dimakamkan di sini. Ia dihormati secara lokal sebagai tokoh besar, dengan doa dan nazar dipanjatkan di makamnya. CATATAN: Prasasti bangunan makam bertanggal 1549-50 (956 H); tanggal ini bertentangan dengan tradisi 'menantu Bayezid I', dan identitas serta tanggal wafat pastinya tidak pasti dalam sumber (sebuah maqam — riwayat tentang kepastian makam masih diperselisihkan). Makam berada di pemakaman Şenköy, 27 km dari Milas.

MuğlaLihat
Ulama

Husameddin Efendi

Seorang ulama yang merupakan putra syekh Mevlevi Muğla, Şâhidî İbrâhim Dede, dan bertugas sebagai mudarris (guru besar) serta syekh. Dalam karyanya 'Tuhfe-i Hüsâmî' yang ditulis tahun 1585 (993 H), ia menyatakan bahwa ayahnya adalah İbrâhim yang menggunakan nama pena Şâhidî. Ia membangun sebuah masjid besar bernama namanya sendiri (juga tercatat sebagai Masjid Müftüler) di lingkungan Ayazkıyı, distrik Ula, Muğla, dan bertugas sebagai guru besar serta syekh di loji yang bersebelahan dengan masjid sesuai tarekat asal ilmu tasawufnya (apakah Mevlevi atau Qadiri masih diperdebatkan). Setelah wafat, ia dimakamkan di makam yang dibangun di sebelah selatan masjidnya. Wafatnya setelah tahun 1585; tahun pastinya tidak jelas dalam sumber.

MuğlaLihat
Wali

Syekh Sayyid Kemaleddin

Seorang sayyid dan salah satu syekh Mevlevi terkemuka yang hidup pada masa Bayezid I dan Sultan Mehmed I (abad ke-14-15). Ia mendirikan sebuah zawiyah bertitah sultan di Muğla (Camikebir) yang menjadi pusat peletakan dasar tarekat Mevlevi di Muğla. Ia mengambil Hüdâyî Salih Dede sebagai pelayannya dan mengirimnya ke Persia untuk belajar; setelah wafatnya, Hüdâyî Efendi menjadi syekh di zawiyah ini. Ia dikenang sebagai orang saleh berilmu dan bijaksana. Makamnya berada di halaman Masjid Şahidi sekarang, tepat di sebelah barat makam; Evliya Çelebi menggambarkannya sebagai tempat ziarah beratap terbuka dalam dinding berbentuk segi empat.

MuğlaLihat
Wali

Hudayi Salih Dede

Pendiri loji Mevlevi Muğla dan seorang syekh Mevlevi. Ia menerima pendidikan Al-Qur'an pertamanya dari ayahnya, tinggal beberapa waktu di Mesir, lalu menetap di Muğla dan mengabdi kepada Seyyid Kemaleddin, kemudian bergabung dengan tarekat Mevlevi atas bimbingannya. Dengan izin Sultan Mehmed Sang Penakluk, ia mulai menjadi syekh di zawiyah Seyyid Kemaleddin, mengajar Matsnawi dan menulis risalah, sehingga mengakarkan tarekat Mevlevi di Muğla. Ia wafat tahun 1480-1481 (885 H) pada usia sembilan puluh tahun dan dimakamkan di makam dalam halaman Masjid Şahidi, di kaki makam Seyyid Kemaleddin. Putranya adalah mistikus-penyair terkenal Şâhidî İbrâhim Dede.

MuğlaWafat 885 HLihat
Wali

Syekh Ahmad al-Kabir dan Syekh Muhammad al-Kabir (Syekh Dede Dedeşen)

Menurut tradisi setempat, keduanya adalah dua bersaudara syekh yang dihormati sebagai wali dan tinggal di desa Dedeşen, distrik Göle. Legenda menyebutkan bahwa selama kampanye Çaldıran Sultan Selim I pada tahun 1514 mereka dengan murah hati memberi makan pasukan yang melintas, sehingga Sultan menghadiahkan permukiman itu kepada mereka dan menamai desa itu 'Dedeşen.' Makam mereka berupa dua sarkofagus batu di dalam makam di pintu masuk desa; bangunan itu diperkirakan berasal dari akhir abad ke-16 berdasarkan ciri arsitektur, tetapi tanggal wafat yang pasti dan identitas keilmuan yang terdokumentasi tidak diketahui (tidak ada biografi tercatat; kisah ini bersandar pada tradisi lisan).

ArdahanLihat
Wali

Molla Hamit Cana Hoca

Diriwayatkan hidup sekitar tahun 1450-1540 M, Molla Hamit Cana Hoca lahir di desa Goglieti di Murgul (kini termasuk dalam wilayah Başköy), putra dari seorang ayah pendeta Georgia dan ibu suku Laz. Dibawa ke Istanbul oleh tentara Utsmaniyah pada usia sekitar sembilan atau sepuluh tahun, ia belajar di Sekolah Enderûn, menjadi hafiz lalu molla, dan dijuluki 'Cana' karena kedekatannya dengan para gurunya. Setelah beberapa waktu mengajar di Enderûn, ia memperoleh izin dari Syaikhulislam pada masanya dan kembali ke kampung halamannya untuk menyebarkan Islam di kawasan Murgul, mengislamkan ayahnya sendiri lebih dulu kemudian penduduk desa. Ia dikatakan membangun masjid pertama di Artvin di Lomiketi pada tahun 1520 dan melakukan dakwah di Atina (Pazar), Viçe (Fındıklı), Arhavi, Maradit (Muratlı/Borçka), lembah İmerhev, serta jalur Batumi-Kutaisi. Makamnya, yang dipugar dan dibuka kembali bersama sebuah masjid pada tahun 2016, diziarahi sebagai situs ziarah setempat.

ArtvinLihat
Wali

Gazi Baba (Aşık Çelebi)

Makam Gazi Baba berdiri di atas bukit timur laut Skopje dan, menurut tradisi lokal, merupakan makam penyair Utsmaniyah sekaligus kadi Skopje abad ke-16, Aşık Çelebi (nama asli Pir Mehmed) (TDV, "Aşık Çelebi", Günay Kut). Lahir di Prizren pada 1520, Aşık Çelebi adalah penulis kamus biografi penyair terkenal Meşairü'ş-şuara; setelah berbagai jabatan kadi ia wafat karena radang selaput dada saat menjabat kadi Skopje pada 979/1572 dan dimakamkan di sini. Makam ini hancur dalam gempa 1963 dan dibangun ulang pada 2013 dengan dukungan Kota Bursa. Identifikasi Gazi Baba dengan Aşık Çelebi adalah tradisi lokal yang diterima, bukan kepastian terdokumentasi (dicatat secara transparan).

Üsküp (Skopje)Wafat 979 HLihat
Wali

Darwis Ali Koç Baba

Ali Koç Baba adalah darwis Alevi-Bektashi yang bermigrasi dari Anatolia ke Balkan; sumber menggambarkannya sebagai murid Koyun Baba atau putra Seyyid Ali Sultan dan keturunan Haci Bektas Veli (B. Aleksiev, "Ali Koç Baba", isamveri; kajian "Ali Koç Baba Ocagi"; TDV, "Nikopol"). Ia aktif di kawasan Nikopol pada masa Utsmaniyah dan disebut ikut dalam kampanye Rumelia. Makamnya, bangunan batu berbentuk piramida di bukit "Tekke" di tepi Sungai Danube, diziarahi baik oleh Muslim maupun Kristen untuk ziarah penyembuhan Hidrellez. Tahun wafatnya diperselisihkan (abad 14-15); meski prasasti makam mencantumkan tanggal Pertempuran Nikopolis 1396, sumber tidak memberikan tahun yang pasti (dicatat secara transparan).

Niğbolu (Nikopol)Lihat
Wali

Enihan Baba

Enihan Baba adalah tokoh legendaris yang dihormati sebagai darwis dan penyembuh oleh komunitas Alevi-Bektashi dan Pomak di Rhodope tengah; keberadaan historisnya belum terverifikasi dan informasinya sebagian besar bersandar pada legenda (E. Troeva, "Momchil ili Enihan", Rodopski Starini/BAS; V. Grigorov, makam yang diziarahi Muslim Bulgaria di Rhodope tengah, Sofia 1998). Makamnya berada di puncak Svoboda (dahulu "Eni Han Baba") sekitar 13 km di atas desa Davidkovo, di atas situs suci Thracia kuno, dan berisi sarkofagus batu yang kosong. Dalam legenda, tekke saudaranya Sarı Baba berada dekat Momchilovtsi; makam yang runtuh pada 1970-an ini dibangun ulang pada 2005 dan menarik peziarah dari kawasan Kardzhali/Momchilgrad. Pembingkaian nasionalis dalam sebagian sumber disajikan secara netral (berbagai pandangan).

Davidkovo (Smolyan)Lihat
Wali

Syekh Hasan Baba (Tekke Kurila)

Syekh Hasan Baba dari Khurasan ("Horasanli Alp Eren") adalah pendiri tekke Qadiri di kawasan Kurila, Prizren; menurut TDV, tekke yang masih berdiri hingga kini ini didirikan oleh Syekh Hasan pada 1066 (1655-56) (TDV, "Prizren"; Jurnal Budaya Turki dan Riset Haci Bektas Veli, no. 110, 2024). Tekke ini memiliki prasasti pendirian ukiran kayu kenari bertarikh 1655; makam pendiri berada di ruang makam yang menyatu dengan bangunan, dan panji-panji Utsmaniyah serta perlengkapan upacara tersimpan di semahane. Sebuah sumber sekunder menyebut tokoh yang dimakamkan "Syekh Hüseyin Baba", sedangkan TDV dan daftar lain menyebut "Syekh Hasan" (perbedaan nama dicatat secara transparan).

Prizren (Kurila)Lihat
Wali

Syekh Husein Baba Zukić

Husein Zukić (w. 1213-1214 H/1798-1800 M), setelah belajar di Fojnica dan Sarajevo (Madrasah Gazi Husrev-beg), pergi ke Istanbul dan berbaiat kepada Hafiz Mehmed Çanakhisari di lingkungan Tekke Syekh Murad serta masuk jalan Naqsyabandiyah-Mujaddidiyah (TDV, "Naqsyabandiyah" dan "Bosnia-Herzegovina"; penetapan Komisi Monumen Nasional BiH, 2012). Setelah tinggal di Konya, Bagdad, Bukhara dan Samarkand, ia mendirikan tekke di desa kelahirannya Živčići pada 1195 (1780-81), menyebarkan cabang Mujaddidi di Bosnia dan menerapkan zikir jahar yang sesuai dengan tabiat penduduk setempat. Makamnya di bukit atas tekke dibangun oleh muridnya Syekh Abdurrahman Sirri dan ditetapkan sebagai monumen nasional Bosnia-Herzegovina pada 2012.

Živčići (Fojnica)Wafat 1214 HLihat
Wali

Haji Sinan Aga

Hacı Sinan Ağa (w. Ramadan 1049 H/1639-1640 M) adalah saudagar kaya yang hidup di Sarajevo abad ke-17, pendiri sekaligus tokoh yang dimakamkan di makam halaman Tekke Hadži-Sinan (Silahdar Mustafa Pasha), salah satu pusat Qadiriyah di Balkan (TDV, "Sarajevo"; Komisi Monumen Nasional BiH, penetapan #2534, 2005). Tekke ini dibangun pada 1638-1640 olehnya atau putranya, silahdar Mustafa Pasha, dengan arsitek Kasım Ağa, setelah penaklukan Bagdad oleh Murad IV (1638). Hacı Sinan Ağa wafat sebelum tekke selesai dan dimakamkan di makam halaman bersama istrinya Sakine. Sumber menyebutnya sebagai pendiri-dermawan tekke, bukan syekh tarekat (dicatat secara transparan).

Saraybosna (Sarajevo)Wafat 1049 HLihat
Wali

Ki Ageng Pengging (Kebo Kenanga)

Tokoh spiritual Jawa pada masa peralihan Majapahit ke Demak dan murid Syekh Siti Jenar. Ia memimpin masyarakat Pengging (kini Banyudono, Boyolali, Jawa Tengah), hidup sederhana di tengah para petani, dan termasuk dalam lingkaran tasawuf Siti Jenar (id.wikipedia, "Ki Ageng Pengging"; jurnal al-ABSAH UIN Surakarta). Tradisi menyebutkan ia dihukum mati dengan tuduhan pemberontakan setelah menolak menghadap dan tunduk kepada keraton Demak. Ia adalah ayah Sultan Hadiwijaya (Jaka Tingkir), pendiri Kerajaan Pajang. Makamnya di Boyolali menjadi tempat ziarah; tahun wafatnya tidak dipastikan dalam sumber.

Boyolali (Pengging)Lihat
Wali

Baba Abdullah Melçani

Baba Abdullah Melçani adalah baba Bektashi Albania abad ke-19 dan seorang bejtexhi (penyair) yang menulis dalam bahasa Albania (R. Elsie, The Albanian Bektashi, 2019; F. A. Turan, "Tekke Bektashi di Albania", 2018). Ia memimpin tekke Melçan dekat Korçë (didirikan pada 1640 oleh Hysen Ali Dede) selama sekitar empat puluh tahun dan wafat pada 1852. Tekke Bektashi berbenteng (bertembok) tertua dan satu-satunya yang bertahan di Albania ini menjadi pusat kebangkitan nasional Albania pada masanya dan berfungsi sebagai markas de facto Bektashi pada 1920-an.

Melçan (Korçë)Wafat 1852Lihat
Wali

Sari Saltuk (Makam Kaliakra)

Sari Saltuk (w. 697 H/1297-98 M) adalah darwis-pejuang Turki legendaris yang berpengaruh dalam proses Turkifikasi dan Islamisasi Anatolia dan Balkan, terkenal dengan karamahnya. Setelah wafatnya muncul banyak makam yang dinisbatkan kepadanya dari Balkan hingga Anatolia; pusat pemujaan utama dan tempat wafatnya dianggap di Babadag, Rumania (TDV, "Sarı Saltuk", Machiel Kiel; A. Y. Ocak, Sarı Saltık, TTK 2002). Makam di Tanjung Kaliakra, Bulgaria, berasal dari tekke darwis Bektashi yang konon menyimpan peninggalannya pada masa Utsmaniyah. Ini salah satu dari sekian makamnya yang diperselisihkan (disajikan transparan dengan berbagai pandangan).

Kaliakra (Kavarna)Wafat 697 HLihat
Wali

Umar bin Abdurrahman al-Attas

Umar bin Abdurrahman al-Attas (w. 1072/1652) adalah sufi dan ulama besar dari keluarga sada Bâ Alawi yang nasabnya sampai kepada Ali; ia dikenal dengan julukan "Qutbul Anfas" dan merupakan pendiri cabang al-Attas dari Bâ Alawi. Ia belajar kepada para guru pada zamannya seperti Husain bin Abu Bakar bin Salim dan dipandang sebagai pemimpin rohani di Hadramaut. Karya termasyhurnya adalah Ratib al-Attas, kumpulan zikir dan doa dari Al-Qur'an dan hadis yang masih banyak dibaca hingga kini. Ia wafat di kota Huraydah tempat ia menghabiskan tahun-tahun terakhirnya, dan dimakamkan di sana.

HureydaWafat 1072 HLihat
Ulama

Syeikh Abdullah Fahim bin Ibrahim

Ulama Islam berdarah Melayu-Utsmani, nasionalis, dan ahli falak (astronomi Islam) (sekitar 1869/1870 Makkah – 27 April 1961 Kepala Batas, Pulau Pinang). Ia adalah Mufti pertama Pulau Pinang (menjabat 1951–1956). Dengan perhitungan falak/Islam ia menetapkan 31 Ogos 1957 sebagai tarikh yang baik bagi kemerdekaan Tanah Melayu, dan mengingatkan bahwa jika tidak, tarikh yang sesuai akan jatuh pada 1962 (en.wikipedia, "Syeikh Abdullah Fahim"; Jabatan Agama Islam Pulau Pinang JAIPP). Ia kakek Perdana Menteri Malaysia ke-5, Abdullah Ahmad Badawi. Makamnya berada di Masjid Al-Jamiul Badawi yang bersejarah (Bertam/Kepala Batas), yang asal-usulnya bermula 1784. Pin tidak diberikan karena koordinat bersumber tunggal (jangan dikelirukan dengan Masjid Abdullah Fahim yang lebih baru dan dinamai menurut namanya).

Kepala Batas (Penang)Wafat 1961Lihat