Seorang sufi dan penyair dari Bursa, yang dipandang sebagai pîr jalan Celvetî. Namanya Mehmed, gelarnya Muhyiddin; beliau dikenal dengan nama pena "Üftâde" yang dipakainya dalam syair-syairnya. "Üftâde" berarti "yang jatuh, yang tergila-gila oleh cinta", dan nama itu melekat padanya setelah sebuah peringatan yang diterimanya dalam mimpi.
Beliau lahir di kampung Araplar, Bursa. Meski sumber-sumber memberikan tahun lahirnya 895 (1490), sebuah ungkapan dalam Vâkıât karya muridnya Azîz Mahmûd Hüdâyî menunjukkan bahwa beliau lahir sekitar tahun 900 (1495). Ayahnya tercatat datang dari Manyas lalu bermukim di Bursa.
Pada usia anak-anak beliau berbaiat kepada Muk'ad Hızır Dede, salah satu syekh Bayramî, dan atas dorongannya mulai menuntut ilmu; beliau mengabdi kepadanya sekitar delapan tahun hingga gurunya wafat pada 918 (1512). Dengan suaranya yang indah beliau mengumandangkan azan di Masjid Agung Bursa (Ulucami) dan Masjid Doğan Bey. Karena menerima upah beberapa akçe, beliau diperingatkan dalam mimpi: "Engkau telah jatuh (menjadi üftâde) dari maqammu," dan PADA HARI BERIKUTNYA beliau berhenti mengumandangkan azan. Setelah itu beliau mencari nafkah dengan membuat kain sutra dan kancing serta menyalin kitab, sementara tugas imam dan muazin tetap dijalankannya tanpa upah, secara sukarela. Pilihan ini adalah kunci hidupnya: beliau menarik nafkahnya dari kerja tangannya sendiri dan memisahkan pengabdian keagamaan dari upah.
Sekitar usia tiga puluh lima tahun beliau mulai berkhotbah dan membimbing. Masyarakat mengikuti khotbahnya di Masjid Doğan Bey, Masjid Namazgâh dan masjid-masjid lain dengan minat besar. Sementara meneruskan bimbingannya di masjid dan tekke yang dibangunnya di kampung Pınarbaşı Kuzgunluk di lereng Gunung Uludağ, antara tahun 1529-1536 beliau diangkat sebagai khatib Masjid Emîr Sultan. Beliau menyatakan menerima tugas itu atas isyarat maknawi dari Emîr Sultan, dan memegangnya hingga wafat. Masjidnya yang diselesaikannya pada 985 (1577) di kawasan Yerkapı serta tekkenya bertahan hingga kini melalui berbagai perbaikan dan perubahan.
Beliau wafat pada 12 Cemâziyelevvel 988 (25 Juni 1580). Kedua putranya, Mehmed dan Mustafa, secara berurutan menjadi syekh di tekkenya. Khalifahnya yang paling terkenal adalah Azîz Mahmûd Hüdâyî, yang berbaiat kepadanya pada 984 (1576), di tahun-tahun terakhir hidupnya; catatan yang dibuat Hüdâyî selama tiga tahun — dikenal sebagai Vâkıât — membawa pengajaran Üftâde sampai ke masa kini. TEİS menyebut di antara khalifahnya yang paling terkenal: Üftâdezâde Şeyh Mehmed Efendi (994/1586), Muabbir Veli Dede (1010/1601), Üftâdezâde Şeyh Mustafa Efendi (1017/1608) dan Hüdâyî; termasuk riwayat pula bahwa beliau mewasiatkan kekhalifahan kepada putranya Mehmed Efendi meski usianya lebih muda dari saudara-saudaranya.
Silsilah dan Celvetiyye
Silsilah tarekatnya sampai kepada Hacı Bayrâm-ı Velî melalui Hızır Dede dan Akbıyık Sultan. Meski tarekat Celvetiyye dinisbatkan kepada Azîz Mahmûd Hüdâyî, yang menjadikan CELVET sebagai dasar metode seyr ü sülûk adalah Üftâde; karena itu penulis entri TDV berkata, "dapat pula dikatakan bahwa beliaulah pîr Celvetiyye". İsmâil Hakkı dari Bursa, sendiri seorang syekh Celvetî, menggambarkan perkembangan ini dengan kiasan bulan: Celvetiyye adalah BULAN SABIT pada masa İbrâhim Zâhid-i Geylânî, BULAN pada masa Üftâde, dan BULAN PENUH pada masa Hüdâyî (Silsile-i Celvetiyye, hlm. 63).
Kezuhudan dan Pertemuannya dengan Sultan Süleyman
Salah satu sifatnya yang paling menonjol adalah zuhud dan takwa; selain menjauhi yang haram, beliau bahkan tidak berpaling kepada sebagian yang mubah. Diriwayatkan bahwa Sultan Süleyman al-Qanuni, yang pada suatu masa melarangnya berbicara tentang Mesnevî dan Fusûsü'l-hikem dalam khotbahnya, kemudian mengundangnya ke Istanbul dan memuliakannya; dan ketika melihat Üftâde tidak menerima satu atau dua desa yang hendak diwakafkan untuk tekkenya, sultan berkata kepada para wazirnya bahwa sebagian syekh adalah pencari dunia (tâlib-i dünyâ), tetapi Üftâde adalah orang yang meninggalkan dunia (târik-i dünyâ).
Kepenyairannya
Beliau menulis syair-syair arifana dengan bahasa sederhana bergaya Yûnus Emre; syairnya mendapat sambutan besar di lingkungan tekke dan sebagiannya digubah sebagai ilahi lalu dilantunkan. Divannya dicetak oleh Mehmed Tâhir dari Bursa (Istanbul 1328), dan ada tiga terbitan lain dengan huruf Latin (Mustafa Bahadıroğlu, "Celvetiyye'nin Pîri Hz. Üftâde ve Divanı", Bursa 1995; "Üftâde Divanı", Bursa 2000 dan Istanbul 2011). Divannya yang memuat lima puluh syair — sebagian besar berwazan aruz dan sebagian bersuku kata — diterjemahkan ke bahasa Prancis oleh Paul Ballanfat dengan judul "Le divan Hazret-i Pir Üftâde" (Paris 2002), dan Angela Culme-Seymour mengalihkan terjemahan Prancis itu ke bahasa Inggris dengan judul "The Nightingale in the Garden of Lover" (Oxford 2005). Ali Örfî Efendi menulis syarah berjudul "Şerh-i Nutk-ı Üftâde" atas syairnya yang dimulai dengan "Yine dûş oldu gönül yârin cemâl-i şem'ine". TEİS mencatat bahwa dalam syairnya terdapat baik idiom arifana yang kaya kata Arab dan Persia maupun ungkapan sederhana yang mudah dipahami orang awam, dan bahwa temanya berkisar pada mencintai Allah, menjadi layak menyaksikan keindahan-Nya, serta kesetiaan pada tarekat.
Vâkiât
Sejak 1 Zilkade 984 (20 Januari 1577), Azîz Mahmûd Hüdâyî mencatat perkataan mursyidnya dalam bahasa Arab sepanjang tiga tahun sulûknya, dan menyelesaikan karya itu pada Jumat 9 Şevval 987 (29 November 1579), sebulan sebelum menerima kekhalifahan dan meninggalkan Bursa. Di awal kitab yang dikenal sebagai Vâkıât-ı Hüdâyî (Vâkıât-ı Üftâde) terdapat ungkapan yang berarti "perkataan-perkataan tinggi yang lebih berharga daripada emas murni, yang terjadi selama sulûk antara hadratus syekh dan si fakir ini". Ucapan İsmâil Hakkı dari Bursa — "perkataan Syekh Üftâde yang dihimpun oleh hadrat Hüdâyî, yang terkenal dengan nama Vâkıât" — menunjukkan bahwa nama itu diberikan kepada karya tersebut belakangan. Kitab yang dipandang sebagai SUMBER UTAMA bagi pandangan Üftâde dan bagi tarekat Celvetiyye ini tersimpan dalam naskah penulisnya sendiri, dua jilid masing-masing seratus (100) lembar, di Perpustakaan Hacı Selim Ağa di Üsküdar (Hüdâî Efendi, no. 249-250). Mehmed Muizzüddin Celvetî, yang diperkirakan salah satu murid Hüdâyî, menerjemahkan sebagian karya itu ke bahasa Turki pada masa hidup syekh (Perpustakaan Süleymaniye, Mihrişah Sultan, no. 253/6).
Tekkenya
Tekke yang dibangun di lereng Uludağ pada tanah yang menurun tajam dari selatan ke utara, di atas lahan seluruhnya 2.507 m², berstatus sebuah kompleks yang terdiri dari masjid, semâhâne, harem, selâmlık, çilehâne (tempat berkhalwat) dan sebuah pancuran. Cucu Üftâde, syekh keempat Kutub İbrâhim Efendi, memperbarui tekke dengan bangunan tambahan pada 1081 (1670) dan memperkuat sekelilingnya. Bentuknya sekarang membawa ciri masa Selim III dan Mahmud II. Pada bagian yang diperbarui dari pancuran yang dikenal sebagai "Pancuran Hû" di dinding barat masjid terukir tahun 974 (1566) dan ayat tentang air (al-Anbiyâ 21/30). Di dalam çilehâne dipamerkan sejumlah benda yang dahulu dipakai di dergah dan dinisbatkan kepada Üftâde serta Azîz Mahmûd Hüdâyî. Bagian selâmlık kini telah dibongkar dan sebuah jalan melintas di atasnya; pada tahun-tahun terakhir dilakukan restorasi menyeluruh di bagian harem, çilehâne dan bagian lainnya.
Nasihat dan Pengajarannya
Pengajaran Üftâde berdiri di dua tempat: VÂKIÂT, catatan yang dibuat muridnya Azîz Mahmûd Hüdâyî selama tiga tahun, dan DIVAN-nya sendiri. Bagian ini menyampaikan pengajaran yang diberikan kedua sumber itu serta bait-baitnya sendiri, dengan menyebut sumbernya; atlas tidak mencatat satu kalimat pun sebagai "Üftâde berkata" jika itu bukan miliknya.
Inti Pengajarannya: Tinggalkan Kasyaf, Jangan Tinggalkan Syariat
Inti pandangannya tentang kasyaf dan makrifat adalah ucapan ini: "Seandainya seluruh yang ada di alam mulk dan malakut tampak kepada kalian melalui kasyaf, jika kalian tidak mampu menjelaskannya secara sesuai syariat, maka TINGGALKANLAH KASYAF ITU, TETAPI JANGAN TINGGALKAN SYARIAT." Menurutnya, seorang salik yang berjalan di alam malakut tidak sepatutnya menceritakan persoalan alam itu kepada orang yang berada di alam mulk dan terikat oleh batasannya; salik yang telah menyingkap hakikat "hendaknya menjahit mulutnya dengan jarum dan benang syariat". Jika ia berbicara sembarangan tanpa memasukkan ucapannya ke dalam pakaian syariat, ia membuka jalan kerusakan, dan laut fitnah mulai bergelombang, sebagaimana terlihat pada Hallâc-ı Mansûr dan Seyyid Nesîmî. Ia juga dapat menyebabkan orang yang mengucapkan kalimat-kalimat itu secara taklid semata jatuh ke dalam kekufuran (TDV)
Berbicara Sesuai Kadar Pemahaman
Konsekuensi wajar dari ukuran ini: manusia harus diajak bicara sesuai tingkat pemahamannya; para nabi pun demikian, berbicara dengan manusia sebatas yang dapat dipikul akal mereka. Penulis entri TDV mencatat buah praktis prinsip ini: "Karena itu, tidak pernah keluar dari mulut Üftâde satu kalimat pun yang bersifat syathiyah" (TDV)
Zuhud: Menjauhi Sebagian yang Mubah, Apalagi yang Haram
Salah satu sifatnya yang paling menonjol adalah zuhud dan takwa; selain menjauhi yang haram, beliau bahkan tidak berpaling kepada sebagian yang mubah (TDV). Padanannya dalam hidupnya nyata: beliau memisahkan pengabdian keagamaan dari upah, menarik nafkahnya dari kerja tangan melalui pembuatan sutra dan kancing serta penyalinan kitab, dan menolak desa-desa yang hendak diwakafkan kepada tekkenya.
Metode Seyr Ü Sülûk: Celvet
Meski tarekat Celvetiyye dinisbatkan kepada Hüdâyî, yang menjadikan CELVET sebagai dasar metode seyr ü sülûk adalah Üftâde; karena itu penulis TDV berkata, "dapat pula dikatakan bahwa beliaulah pîr Celvetiyye". İsmâil Hakkı dari Bursa menggambarkan perkembangan jalan ini dengan kiasan bulan: bulan sabit pada masa İbrâhim Zâhid-i Geylânî, bulan pada masa Üftâde, bulan penuh pada masa Hüdâyî (Silsile-i Celvetiyye, hlm. 63). TEİS juga mencatat bahwa karya-karyanya didominasi — selain dasar-dasar dan adab Celvetiyye — oleh tema seyr ü sülûk, makrifat ilahiah dan kesatuan wujud.
Vâkiât: Catatan Pelajaran Tiga Tahun
Sejak 1 Zilkade 984 (20 Januari 1577) Hüdâyî mencatat perkataan mursyidnya dalam bahasa Arab BESERTA TANGGALNYA selama tiga tahun, dan menyelesaikan karya itu pada Jumat 9 Şevval 987 (29 November 1579). Ungkapan di awal kitab menyebut apa yang terjadi antara syekh dan murid selama sulûk sebagai "perkataan tinggi yang lebih berharga daripada emas murni". Vâkıât dipandang sebagai sumber utama bagi pandangan Üftâde dan bagi tarekat Celvetiyye; naskah penulisnya berada di Perpustakaan Hacı Selim Ağa dalam dua jilid masing-masing seratus (100) lembar (Hüdâî Efendi, no. 249-250) (TDV; TEİS)
Caranya Berkhotbah
Dalam khotbahnya beliau mengutip dari banyak kitab — terutama Mesnevî Mevlânâ — sehingga menjelaskan berbagai pokok bahasan dengan cara yang mudah dipahami orang awam (TEİS). Bahwa Sultan Süleyman pada suatu masa melarangnya berbicara tentang Mesnevî dan Fusûsü'l-hikem dalam khotbahnya juga menunjukkan betapa cara ini menarik perhatian pada masanya (TDV)
Nasihatnya Dalam Bait-baitnya Sendiri
Bait-bait berikut diambil dari terbitan divannya, dengan sumber disebutkan.
① Permohonan hidayah dan berjalan bersama ahli irfan:
Malam dan siang mari kita menangis dan meratap
semoga Allah Yang Maha Pengampun memberi hidayah
semoga ahli irfan menjadi pemandu bagi kita
semoga Allah Yang Maha Pengampun memberi hidayahSemoga Dia menjadikan kita layak melihat keindahan-Nya
mari kita setia kepada Yang Hak di atas tarekat
mari kita menjadi pencinta Allah dari dalam hati
semoga Allah Yang Maha Pengampun memberi hidayah.
Meral, Arzu [ed.], Dîvân-ı Hazret-i Üftâde, Istanbul: Revak Yayınları, 2012, hlm. 3-4; dari bagian "Contoh dari karyanya" TEİS.
② Melampaui wujud diri:
Tampakkanlah cahaya keindahan-Mu
agar para pencinta-Mu merindu
putuskanlah hati mereka dari selain-Mu
agar para pencinta-Mu merasakan nikmatTenggelamkan mereka di samudra yang melingkupi
lemparkan jiwa mereka ke lautan
dan di dalam lautan itu biarlah para pencinta-Mu
meniadakan diri mereka sendiriHijab di depan keindahan-Mu
adalah wujud para darwis itu sendiri
ambillah wujud mereka
agar para pencinta-Mu menemukan kesejahteraan.
Terbitan yang sama, hlm. 5-6.) Bait terakhir seperti ringkasan pemahamannya tentang sulûk: hijab di depan keindahan ilahi adalah WUJUD DIRI si darwis.
③ Mengilapkan hati dengan zikir:
Ya Ilahi, dengan zikir-Mu berilah kilap pada hati
agar keindahan-Mu yang elok tampak dalam tauhid, ya Tuhan
jadikanlah zikir-Mu pemandu, menjadi wasilah kepada Zat-Mu
karena di dalam zikir semua orang saleh mencapai Yang HakBerilah jiwa kami kehidupan yang abadi dengan zikir-Mu
agar ia lepas dari kefanaan dan menemukan kebaqaan melalui zikir.
Terbitan yang sama, hlm. 7.
④ Serunya kepada ahli tarekat:
Hai kalian yang telah sampai di jalan
para pemuka jalan Sang Kekasih
para pemandu bagi para pencari
kabarkanlah kepadaku tentang Sang Kekasih.
Terbitan yang sama; dari bagian yang sama pada TEİS.
Gayanya
Beliau menulis syair-syair arifana dengan bahasa sederhana bergaya Yûnus Emre; sebagian syairnya digubah sebagai ilahi lalu dilantunkan. TEİS mencatat bahwa dalam syairnya terdapat baik idiom arifana yang kaya kata Arab dan Persia maupun ungkapan sederhana yang mudah dipahami orang awam, dan bahwa temanya berkisar pada mencintai Allah, menjadi layak menyaksikan keindahan-Nya, kesetiaan pada tarekat, dan memohon hidayah kepada Allah.
Karamah
Berikut ini adalah riwayat (rivâyet) sebagaimana termuat dalam sumber-sumber; atlas mencatatnya bukan sebagai "demikianlah yang terjadi", melainkan sebagai "demikianlah yang dituturkan sumber". Karya asal setiap riwayat disebutkan dalam tanda kurung.
Sebuah Ukuran Lebih Dahulu: Üftâde Menentang Pengungkapan Karamah
Saat membaca bagian ini, ukuran beliau sendiri harus diingat. Üftâde menentang pengungkapan kasyaf dan karamah, serta menjauhi ungkapan yang memaksa batas akal; tidak pernah keluar dari mulutnya satu kalimat pun yang bersifat syathiyah (TDV; TEİS). Jadi riwayat-riwayat di bawah ini adalah kisah yang hidup dalam ingatan masyarakat MESKIPUN berlawanan dengan pilihannya sendiri — dengan ungkapan TEİS: "karamahnya diceritakan dari mulut ke mulut bahkan hingga hari ini".
Mimpi yang Memberinya Nama
Diriwayatkan bahwa ketika beliau mengumandangkan azan dengan suaranya yang indah di Masjid Agung Bursa dan Masjid Doğan Bey, dan karena menerima upah beberapa akçe, beliau diperingatkan dalam mimpi: "Engkau telah jatuh (menjadi üftâde) dari maqammu"; dan PADA HARI BERIKUTNYA setelah peringatan itu beliau berhenti mengumandangkan azan. TEİS mencatat bahwa beliau kemudian meninggalkan upah itu dan MEMINTA agar dirinya dipanggil "Üftâde" — jadi nama itu bukan pujian, melainkan nama sebuah perhitungan terhadap nafsu (TDV; TEİS)
Mimpi Ibunya
TEİS menulis bahwa tentang ibunya tidak diketahui apa pun selain bahwa ia "seorang perempuan yang mata hatinya terbuka" dan bahwa suatu hari ia melihat dalam mimpi putranya berenang di sebuah samudra susu yang besar; mimpi itu ditakwilkan ayahnya bahwa putranya kelak akan menjadi seorang alim besar atau seorang wali (TEİS)
Berkhotbah Dari Mesnevî Tanpa Mengetahui Bahasa Persia
TEİS menuturkan bahwa Üftâde, yang berkhotbah dengan bahasa yang lancar dan jernih, berkhotbah dan menasihati dari Mesnevî — PADAHAL BELIAU TIDAK MENGETAHUI BAHASA PERSIA — berkat himmah Mevlânâ Celâleddîn-i Rûmî dalam mimpi (TEİS)
Isyarat Maknawi Dari Emîr Sultan
Ketika diangkat sebagai khatib Masjid Emîr Sultan antara 1529-1536, beliau sendiri menyatakan menerima tugas itu atas isyarat maknawi dari Emîr Sultan; dan memegangnya hingga wafat (TDV)
Kesaksian Sultan Süleyman: "Târi̇k-i̇ Dünyâ"
Diriwayatkan bahwa Sultan Süleyman, yang pada suatu masa melarangnya berbicara tentang Mesnevî dan Fusûsü'l-hikem dalam khotbahnya, kemudian mengundangnya ke Istanbul dan memuliakannya; dan ketika melihat Üftâde tidak menerima satu atau dua desa yang hendak diwakafkan untuk tekkenya, sultan berkata kepada para wazirnya: "Sebagian syekh adalah pencari dunia, tetapi Üftâde adalah orang yang meninggalkan dunia" (TDV). Riwayat ini bukan kisah karamah, melainkan pengukuhan kezuhudannya oleh orang paling berkuasa pada masanya.
Menjauhi Upah
Tercatat bahwa setelah meninggalkan upah, beliau hidup dari membuat sutra dan kancing serta menyalin kitab, dan meneruskan tugas imam serta muazin TANPA UPAH (TDV). Inti riwayatnya: peringatan dalam mimpi itu bukan tobat sekali jalan, melainkan menjadi kaidah yang dipegang seumur hidup.
Ujian Hüdâyî
Diriwayatkan bahwa sebelum menerima Azîz Mahmûd Hüdâyî yang datang dari jabatan kadi dan guru besar, Üftâde memintanya melepaskan lebih dulu harta dan miliknya, lalu jabatannya; dan agar meletakkan nafsunya di bawah kaki serta mengalahkan kesombongannya, memintanya menjual hati dengan pikulan di jalan-jalan Bursa DENGAN PAKAIAN KADI — contoh paling dikenal dari metode tarbiah Üftâde (entri Hüdâyî pada TEİS; nukilan dirujuk kepada Tezeren 1987 dan Yılmaz 1990). Sumber menuturkan ini bukan sebagai karamah, melainkan tarbiah nafsu yang mendahului karamah.
"Biarlah Para Sultan Berjalan di Belakangnya"
Diriwayatkan bahwa ucapan yang disampaikannya kepada Hüdâyî sebelum wafat ini terwujud ketika Sultan Ahmed I, karena hormatnya kepada Hüdâyî, mendudukkannya di atas kudanya di pasar Üsküdar dan berjalan di belakangnya beberapa saat seperti seorang sais (entri Hüdâyî pada TEİS; nukilan dirujuk kepada Tezeren 1987, hlm. 15). Jadi riwayat itu melihat karamah pada TERWUJUDNYA ucapan Üftâde.
Bait di Pintu Masjid Agung
TEİS menisbatkan kepadanya bait Arab yang tertulis di pintu barat Masjid Agung Bursa: "Yâ Câmi'al-kebîr ve yâ mecma'al-kibâr / Tûbâ limen yezûrüke fi'l-leyli ve'n-nehâr" — "Wahai Masjid Agung! Wahai tempat berkumpulnya para ulama dan para wali! Kabar gembira bagi siapa yang menziarahimu malam dan siang" (TEİS)
Pandangan Ulama yang Berbeda
Catatan ini bersandar pada dua sumber akademik yang independen: entri "ÜFTÂDE" dalam Ensiklopedia Islam TDV (Nihat Azamat, jld. 42, hlm. 282-283, Istanbul 2012) dan entri "ÜFTÂDE, Mehmed Muhyiddin" dalam Kamus Nama-nama Sastra Turki (TEİS; Dr. Murat Karaca). Uraian tentang tekkenya diambil dari entri TDV "ÜFTÂDE TEKKESİ" (Hasan Basri Öcalan, jld. 42, hlm. 283-284). Kedua sumber sejalan pada garis besarnya; titik-titik perbedaannya dibiarkan tampak di bawah ini.
Tanggal Lahir
TDV menulis bahwa meski sumber-sumber memberikan 895 (1490), sebuah ungkapan dalam Vâkıât karya Hüdâyî menunjukkan beliau lahir SEKITAR 900 (1495); TEİS memberikan 1490. Catatan atlas menyimpan 895 (1490), nilai yang umum dalam sumber, dan perbedaan ini dibiarkan tampak di sini.
Tanggal Wafat
TDV memberikan hari yang pasti: 12 Cemâziyelevvel 988 (25 Juni 1580). TEİS menyebut 989/1581. Atlas mengambil sebagai dasar catatan TDV yang memberikan hari, bulan dan tahun (sehingga peringatan wafatnya dapat disimpan pada tingkat HARI); perbedaan TEİS tidak disembunyikan.
Apakah Beliau Menerima Kekhalifahan Dari Hizir Dede
Sebagian besar sumber menyatakan bahwa Üftâde menerima kekhalifahan dari Hızır Dede. Penulis TDV membantah: Üftâde berusia sekitar delapan belas tahun saat gurunya wafat (918/1512), dan menerima kekhalifahan pada usia itu "tampak kurang masuk akal". Dikutip pula ucapan Üftâde sendiri: "Tidak dibukakan kepadaku pada masa syekhku yang telah wafat; ia baru dibukakan setelah wafatnya." Karena tidak ditemukan seorang pun selain Hızır Dede yang beliau sebut "syekhku", dinilai kuat kemungkinan beliau menyempurnakan sulûknya melalui jalan ÜVEYSÎ. Ini bukan sekadar perbedaan antar sumber, melainkan kritik beralasan dari penulis TDV.
Klaim Sünbül Si̇nan — Tidak Benar Menurut TDV
Cemâleddin Hulvî, penulis Lemezât-ı Hulviyye, dan beberapa penulis yang mengikutinya mencatat bahwa sebelum Hızır Dede, Üftâde berbaiat kepada Sünbül Sinan (w. 936/1529) di Istanbul dan menerima ijazah darinya. TDV menyatakan hal ini TIDAK BENAR: Üftâde yang di usia lanjut berkali-kali pergi ke Istanbul mungkin saja bertemu Sünbül Sinan, tetapi berbaiat kepadanya jauh dari kemungkinan, dan menerima kekhalifahan darinya tidak mungkin.
SIAPA PÎR CELVETIYYE? Tarekat dinisbatkan kepada Azîz Mahmûd Hüdâyî; sebaliknya, karena yang menjadikan celvet sebagai dasar metode seyr ü sülûk adalah Üftâde, TDV berkata "dapat pula dikatakan bahwa beliaulah pîr Celvetiyye". Kiasan bulan sabit–bulan–bulan penuh dari İsmâil Hakkı dari Bursa juga menggambarkan penjenjangan ini. Atlas tidak menukar satu nisbat dengan yang lain: Hüdâyî dicatat sebagai pendiri, Üftâde sebagai pîr metodenya.
Nisbat Hizir Dede
TDV menyebutnya di antara para syekh Bayramî sebagai "Muk'ad Hızır Dede"; TEİS menyebut "Hızır Dede dari Karacabey". Keduanya sepakat bahwa pembaiatan terjadi pada usia anak-anak.
Ayahnya dan Nafkah Awalnya
TDV mencatat bahwa ayahnya datang dari Manyas dan bermukim di Bursa; TEİS menamai ayahnya "Mehmed Efendi dari Manyas" dan menyebut bahwa Üftâde sejak kecil dijadikan magang pada seorang pedagang sutra, dan setelah ayahnya wafat beliau menanggung nafkah keluarga. Dalam TDV, pembuatan sutra dan kancing muncul sebagai jalan nafkah SETELAH beliau meninggalkan upah muazin. Kedua penuturan tidak saling bertentangan, tetapi urutannya berbeda; atlas mencatat keduanya secara terpisah.
Identitas Musli̇huddi̇n Mustafa Efendi̇
Di antara para sufi yang majelisnya beliau hadiri sejak kecil adalah Muslihuddin Mustafa Efendi, imam Masjid Selçuk Hatun di dekat Jembatan Irgandı; kemungkinan bahwa ia orang yang sama dengan Muallimzâde Şeyh Mustafa Efendi (w. 930/1524) dari para syekh dergah Zeyniyye diberikan dalam TDV dengan catatan "mungkin" — bukan identifikasi yang pasti.
Sebuah Perbedaan Tanggal di Dalam Daftar Khalifah
Ketika menyebut khalifah-khalifahnya yang paling terkenal, TEİS menulis "1038/1623" untuk Azîz Mahmûd Hüdâyî. Wafatnya Hüdâyî dikenal sebagai 1038/1628 — termasuk dalam entri Hüdâyî di TEİS sendiri dan di TDV; ketidaksesuaian pasangan angka itu memang demikian dalam sumber. Atlas tidak memperbaikinya dan tidak menukilnya, hanya membuatnya tampak.
MAKAM DAN TEKKE BUKAN TEMPAT YANG SAMA (temuan koordinat). Pin atlas menandai makam: 40.182988, 29.057976. Catatan "Üftade Türbesi" pada Kültür Envanteri identik dengan koordinat ini, catatan "Üftade Camii" pada OpenStreetMap berjarak 19 meter, dan catatan "Üftâde Camii Haziresi" pada KE berjarak 15 meter — artinya pin makam terverifikasi oleh dua sumber numerik independen (ADR-024). Sebaliknya, tempat yang tercatat pada kedua sumber dengan nama "Üftâde Tekke Külliyesi" berjarak sekitar 633 METER dari makam. Saat ini atlas tidak memiliki catatan tempat tersendiri untuk tekke; menganggap makam dan tekke sebagai satu titik akan menjadi kesalahan.
Sumber
- İslâm Âlimleri Ansiklopedisi · jil. 15, hlm. 12
- TDV İslâm Ansiklopedisi (DİA) · entri “ÜFTÂDE TEKKESİ”
- TDV İslâm Ansiklopedisi (DİA) — Nihat Azamat · jil. 42, hlm. 282-283, entri “Üftâde”
- Üftade Camii ve Türbesi'nin Mimarisi ve Bezemeleri
- Türk Edebiyatı İsimler Sözlüğü (TEİS) — Murat Karaca · entri “ÜFTÂDE, Mehmed Muhyiddin”
- TDV İslâm Ansiklopedisi (DİA) · entri “ÜFTÂDE”
- Evliyalar Ansiklopedisi · entri “Bursa Evliyâları”
- TDV İslâm Ansiklopedisi (DİA) — Hasan Basri Öcalan · jil. 42, hlm. 283-284, entri “Üftâde Tekkesi”
- Lemezât; vr. 187 b
- Şakâyik-ı Nu'mâniyye Zeyli (Atâî); s.357
- Osmanlı Müellifleri; c.1, s.22
- Sefînet-ül-Evliyâ; c.2, s.362
- Yâdigâr-ı Şemsî; s.27
- Kâmûs-ul-A'lâm; c.2, s.999
- Tam İlmihâl Seâdet-i Ebediyye; (50. Baskı) s.1107
- Güldeste-i Riyâz-ı İrfân — İsmâil Belîğ · hlm. 109
- Vâkı'ât
- Menâkıb-ı Üftâde (Selîmağa Kütüphânesi, Hüdâyî bölümü No: 982)
- Kitâb-ı Silsile-i İsmâil Hakkı; s.79
Setiap catatan bersumber (Sumber Wajib).
