Masuk

Atlas Digital Geografi Spiritual

Para Wali

1113 catatan · Halaman 6/47

Dikenang di Jumadil Awal

Wali yang haul wafatnya jatuh pada bulan Hijriah ini (bersumber).

Wali

Sayyid Karam Ali Syah

Seorang sufi abad ke-14 yang dianggap termasuk sahabat/murid Syah Makhdum Rupos, yang menyebarkan Islam di Rajshahi. Ia memperoleh gelar 'Ghazi' atas berbagai pertempuran yang diikutinya sejak 1326, lalu menetap di desa Biraldaha, Puthia. Sebuah lempeng tembaga bertarikh 1582 M mencatat namanya sebagai salah satu dari empat darwis dalam misi Syah Makhdum. Makamnya berada di area ziarah yang dikaitkan dengan Masjid Biraldaha. Tanggal wafatnya tidak jelas dalam sumber; ia dikenang sebagai tokoh abad ke-14, dengan penguat yang lebih tipis dibanding yang lain.

RajshahiLihat
Wali

Syah Niamatullah dari Firozpur

Seorang sufi yang dimakamkan di Firozpur, Shibganj, di sisi Bangladesh dari bekas ibu kota Bengal, Gaur. Di atas makamnya, gubernur sekaligus pangeran Mughal Syah Syuja (berkuasa 1639-1660) mendirikan Baraduari, makam bergaya Mughal pertama di wilayah Bangladesh masa kini; bangunan itu merupakan monumen yang dilindungi Departemen Arkeologi. Ia tidak boleh dirancukan dengan tokoh lain bernama sama dari Iran atau Dhaka. Tanggal wafatnya tidak tercatat dalam sumber.

ChapainawabganjLihat
Wali

Sayyid Gulamur Rahman (Baba Bhandari)

Seorang sufi kelahiran 1865 di kampung Maizbhandar, Fatikchhari, yang populer dengan gelar 'Baba Bhandari'. Ia menggantikan pamannya, Sayyid Ahmad Ullah pendiri tarekat Maizbhandari, sebagai pemimpin tarekat dan berperan besar dalam penyebarannya. Ia wafat pada 1937 dan dimakamkan di Maizbhandar bersama para leluhurnya. Makamnya, sebuah situs ziarah tersendiri dalam kompleks Darbar Maizbhandar Sharif, merupakan salah satu maqam pusat tarekat ini.

ChittagongWafat 1356 HLihat
Wali

Syah Sufi Khwaja Yunus Ali Enayetpuri

Lahir pada 1886, ia dianggap sebagai salah satu sufi paling berpengaruh di Bengal abad ke-20. Setelah berbaiat kepada Syah Sufi Sayyid Wazed Ali di Kolkata dan menjalani pembinaan rohani selama dua belas tahun, ia menerima gelar 'Khwaja' dan kembali ke Enayetpur, Sirajganj, tempat ia mendirikan Darbar Enayetpur Sharif. Jalannya menyerap silsilah Qadiri, Chishti, Naqsyabandi, dan Mujaddidi, dengan penekanan Naqsyabandi-Mujaddidi yang menonjol. Ia wafat pada 1952 dan dimakamkan di makam Enayetpur di tepi Sungai Jamuna, kini menjadi pusat yang diziarahi ratusan ribu pengikut.

SirajganjWafat 1371 HLihat
Wali

Syah Sufi Hasymatullah (Khwaja Baba Faridpuri)

Seorang sufi Naqsyabandi-Mujaddidi yang lahir sekitar 1914 di kampung Pakuria, Jamalpur. Dibina oleh Khwaja Yunus Ali Enayetpuri, pendiri Darbar Enayetpur Sharif, ia mendirikan Bishwa Zaker Manzil di Atroshi, Faridpur sekitar 1945, sebuah khanqah yang tumbuh menjadi lembaga berskala nasional. Ia wafat pada 2001 dan dimakamkan di dalam kompleks Atroshi. Makamnya berada di jantung situs ziarah Bishwa Zaker Manzil.

FaridpurWafat 2001Lihat
Wali

Sayyid Ahmad Ullah Maizbhandari

Seorang sufi kelahiran Bengal (1826) yang dianggap sebagai pendiri tarekat Maizbhandari, satu-satunya tarekat sufi pribumi yang lahir di kawasan Bengal. Bernasab pada silsilah Qadiri, ia memadukan keilmuan madrasah dengan amalan sufi dan ekspresi keagamaan khas Bengal. Ia wafat pada 23 Januari 1906 di kampung halamannya, Maizbhandar, Fatikchhari, Chittagong, dan dimakamkan di sana. Makamnya menjadi Darbar Maizbhandar Sharif, salah satu pusat ziarah terbesar di Bangladesh, yang setiap tahun menggelar urs yang dihadiri ratusan ribu orang.

ChittagongWafat 1323 HLihat
Wali

Syah Sultan Kamaruddin Rumi

Seorang sufi abad ke-11 yang menurut tradisi termasuk yang pertama menetap di Bengal, dikatakan tiba sekitar 1053 bersama gurunya Sayyid Syah Surkhul Antia. Setelah berdakwah, penguasa Koch setempat menganugerahkan Madanpur sebagai tanah bebas pajak kepadanya, tempat ia wafat (sekitar 1075) dan dimakamkan. Makamnya terletak di desa Madanpur, sekitar 8 km selatan kota Netrokona. Ia tokoh simbol masuknya Islam awal ke Bengal, meski sumber-sumber berhati-hati atas penanggalan pra-penaklukan ini.

NetrokonaWafat 468 HLihat
Ulama

Sayyid Muhammad Ishaq (Pir Charmonai)

Seorang ulama, mufasir, munazir, dan pendidik yang lahir pada 1915 dalam keluarga Sayyid di Charmonai, Backergunge (Barisal). Dari madrasah dan panti asuhan yang ia rintis di rumahnya sendiri pada 1932, ia membangun salah satu kompleks lembaga Islam terbesar di Bengal selatan dan menjadi Pir pertama Darbar Charmonai Sharif. Ia bermazhab dalam tradisi keilmuan Hanafi Sunni (jalur Deoband/Gangohi). Ia wafat pada 1977 dan dimakamkan di Charmonai, dikenang para pengikutnya sebagai 'Dada Huzur'; ia digantikan oleh putranya Sayyid Fazlul Karim.

BarisalWafat 1397 HLihat
Wali

Bahadur Syah Zafar

Kaisar Mughal terakhir sekaligus penyair bercorak sufi. Setelah pemberontakan 1857 ia diasingkan Inggris ke Rangoon (Yangon), tempat ia menghabiskan tahun-tahun terakhirnya dan wafat pada 1862. Diriwayatkan bahwa ia menerima murid sebagai seorang pir sufi dan dikenal dengan syair-syair keagamaannya. Makamnya ditemukan kembali pada 1991 dan sebuah dargah dibangun di atasnya pada 1994; ia dihormati kaum Muslim setempat sebagai 'sultan wali', dan makam di Jalan Ziwaka, Yangon, menjadi tempat ziarah penting. (Letak pasti makam masih diperselisihkan hingga penemuan 1991.)

YangonWafat 1279 HLihat
Wali

Abid Syah Husaini

Seorang Muslim terpelajar yang dikatakan berasal dari Afghanistan. Tiba di Amarapura pada tahun 1795 dalam usia sembilan belas tahun, Abid Syah Husaini diangkat oleh raja Konbaung, Bodawpaya, untuk memutuskan perselisihan di dalam komunitas Muslim. Ia wafat tahun 1815. Makamnya di pemakaman bersejarah Lin Zin Gone di Amarapura berbentuk dargah/makam keramat dan termasuk tempat ziarah utama bagi kaum Muslim Myanmar tengah.

AmarapuraWafat 1230 HLihat
Wali

Abu al-Barakat Yusuf al-Barbari (at-Tabrizi)

Ia secara tradisional dikenal sebagai mubaligh yang menjadi perantara masuknya Islam ke Maladewa pada tahun 1153 M. Menurut riwayat, ia mengajak raja Buddha terakhir, Dhovemi (yang setelah masuk Islam bergelar Sultan Muhammad al-Adil), memeluk Islam, dan seluruh penduduk kepulauan pun mengikutinya; tahun ini dianggap awal hampir enam abad pemerintahan Islam yang mencakup enam dinasti serta delapan puluh empat sultan dan sultanah. Dalam cerita rakyat Maladewa, ia disebut mengakhiri teror jin laut bernama Rannamaari yang menuntut upeti dari kepulauan itu, dengan membaca Al-Qur'an sepanjang malam, setelah itu sang raja memeluk Islam. Asal-usulnya diperselisihkan di antara sumber-sumber: catatan Maladewa Ibnu Battutah abad ke-14 menyebutnya seorang ulama Afrika Utara (Maghribi/Barbar); satu pendapat menyatakan ia berasal dari Somalia/Berbera, sementara pendapat kemudian mengidentifikasinya sebagai ulama Persia dari Tabriz (Yusuf Syams ad-Din at-Tabrizi) — kemiripan tulisan nisbah 'al-Barbari' dan 'at-Tabrizi' dalam aksara Arab klasik dianggap sebagai sumber kerancuan ini. Makamnya berada di ziarah Medhu Ziyaaraiy di seberang Masjid Jumat (Hukuru Miskiy) di Malé; bangunan ziarah yang ada sekarang dibangun pada 1906 pada masa Sultan Muhammad Shamsuddeen III. Tahun wafatnya tidak tercatat secara pasti dalam sumber-sumber.

MaléLihat
Wali

Sayyid Jabbar Ali Syah

Seorang sufi yang datang dari Bukhara di Asia Tengah dan menetap pada tahun 1845 di Kataragama, yang dimuliakan umat Islam sebagai 'negeri al-Khidr'. Ia menjalani hidup panjang dalam kesendirian, zikir, ibadah, dan kefakiran sukarela. Makamnya termasuk ciri paling menonjol dari kompleks Islam di Kataragama, yang konon dikelilingi sekitar enam puluh makam tanpa nama para peziarah Muslim. Tanggal wafatnya tidak tercatat dalam sumber.

KataragamaLihat
Wali

Bathri Waliyullah

Seorang sufi yang dimakamkan dalam makam kecil bertembok di atas tebing tepat di luar benteng Galle Fort, dekat bastion Aeolus dan Star. Ia dikenal sebagai 'Bathri Waliyullah' (kira-kira 'wali di sisi benteng'); nama aslinya tidak diketahui. Menurut tradisi ia terdampar di pantai dan dimakamkan di tempat ia ditemukan. Rujukan tentang makamnya dalam literatur sufi berasal dari tahun 1880-an, dan makam itu diperkirakan lebih tua. Dirawat oleh komunitas Muslim setempat dengan upacara tahunan. Catatan: karena namanya tidak diketahui, identitasnya tidak pasti; ia dicatat di sini sebagai situs ziarah bernama yang diziarahi masyarakat selama berabad-abad.

GalleLihat
Wali

Syarif Alawi

Syarif Alawi adalah seorang mubalig berdarah Arab-Melayu dari keturunan Nabi (syarif) dari pihak ayah; menurut tradisi Meranaw (Maranao), ia mendarat di pesisir Misamis Oriental sekarang (Mindanao utara), dan dakwahnya menyebar dari sana ke Lanao dan Bukidnon. Ia disebut mendirikan Kesultanan Tagoloan pada awal abad ke-16 (menurut tradisi 1500–1515) dan berkerabat (dalam satu riwayat kakak) dengan Syarif Kabungsuwan, pendiri Kesultanan Maguindanao. Ia berperan penting dalam penyebaran Islam awal di kawasan itu, dan keturunannya menetap di sana; kota Tagoloan di Lanao del Sur dinamai menurut namanya. Meskipun makamnya disebut berada di kawasan itu, lokasi pastinya belum diverifikasi secara arkeologis (kepastian makam diperselisihkan).

Lanao del SurLihat
Wali

Syekh Asyraf Waliyullah

Seorang saudagar-ulama dan sufi yang menurut riwayat memimpin rombongan tujuh orang dari Hadramaut, Yaman, yang mendarat di Beruwala sekitar tahun 1024 M. Ia dimakamkan di tanjung Ketchimalai, yang dianggap sebagai titik pertama komunitas Muslim (Moor) menetap di pulau ini. Makamnya menjadi inti Dargah Ketchchimalai, salah satu situs ziarah Islam tertua di negeri itu; masjid yang ada sekarang dibangun di atas situs itu pada tahun 1911. Ia adalah tokoh simbol masuknya Islam ke pulau tersebut.

BeruwalaWafat 1024Lihat
Wali

Rajah Baguinda Ali

Rajah Baguinda Ali adalah pangeran Muslim dari dinasti Minangkabau Pagaruyung di Sumatra yang, tak lama setelah Syekh Karim ul-Makhdum membawa Islam ke kawasan itu, tiba di Buansa (Sulu) sekitar tahun 1390 menurut tradisi. Ia memenangi kepercayaan penduduk setempat melalui niat damai dan keimanan Islamnya sehingga diterima dengan gelar 'Rajah', serta mengukuhkan tegaknya Islam di Sulu. Ia menikahkan putrinya Dayang-dayang Paramisuli dengan Sayyid Abu Bakar yang kelak mendirikan Kesultanan Sulu, menamainya sebagai penerus dan menyiapkan landasan politik-keagamaan bagi kesultanan itu. Makamnya dilaporkan berada di Bud Datu, Indanan, di bawah pohon balete (beringin pencekik); lokasi pastinya belum diverifikasi secara numerik.

SuluLihat
Wali

Syekh Sayyid Utsman Shiddiqi Waliyullah

Seorang sufi yang dihormati sebagai pelindung rohani kota Kolombo (Cinnamon Gardens / Kolombo 7), dikenal di kalangan Muslim Sri Lanka dengan gelar 'Quthubus Saylan' (Qutb Ceylon) dan dinisbatkan kepada silsilah Shiddiqi. Makamnya ditemukan sekitar tahun 1802 dan Masjid Dewatagaha dibangun di atasnya pada tahun 1820-an. Makamnya termasuk situs ziarah paling ramai di Kolombo, dikunjungi orang dari segala agama. Tanggal wafatnya tidak tercatat jelas dalam sumber; ia dikenang sebagai tokoh abad ke-18 hingga ke-19.

ColomboLihat
Ulama

Hu Dengzhou (Hu Taishi)

Seorang ulama Muslim Hui kelahiran 1522 di Xianyang, Shaanxi (berbatasan dengan Xi'an), yang secara umum diakui sebagai pendiri jingtang jiaoyu (pendidikan masjid/balai kitab) dalam Islam Tiongkok dan dihormati sebagai 'Hu Taishi' (Guru Agung Hu). Karena tidak puas dengan lemahnya pengajaran di masjid setempat, ia mendalami ilmu-ilmu Islam dan, sekembalinya, memindahkan pengajaran privat ke dalam masjid, menyusun kurikulum berjenjang berbahasa Arab dan Persia (Al-Qur'an, hadis, fikih) serta membakukan teks terjemahan yang dipakai di masjid — warisan yang kelak menghidupi tradisi keilmuan Han Kitab. Ia wafat pada 1597 (Wanli 25); makamnya dipindahkan pada 1662 untuk menghindari banjir ke lokasinya sekarang di desa Hujiagou, kecamatan Yaodian, Distrik Weicheng, Xianyang, dan menjadi cagar budaya tingkat provinsi Shaanxi sejak 2003. (Sumber: silkroads.org.cn '胡登洲墓'; baike.baidu.com '胡登洲墓'; MDPI Religions 13(6):553)

Xi'anWafat 1006 HLihat
Wali

Ma Laichi (Abul Futuh)

Seorang sufi Muslim Hui Tiongkok (lahir sekitar 1681) yang nama Arabnya Abul Futuh; ia membawa gerakan Naqsyabandi-Khufiyah ('golongan diam') ke Tiongkok dan mendirikan menhuan Hua Si ('Masjid Beraneka Warna') — tarekat Naqsyabandi tertua dan terpenting dalam sejarah Muslim Tiongkok. Setelah menuntut ilmu di luar negeri ia menetap di Hezhou (kini Linxia). Penekanannya pada zikir diam berlawanan langsung dengan zikir bersuara Ma Mingxin. Tahun wafatnya diperselisihkan dalam sumber (1766 atau 1780). Makamnya adalah Hua Si Gongbei di Linxia. (Sumber: en.wikipedia.org 'Ma Laichi' & 'Huasi Mosque'; islamichina.com)

LinxiaLihat
Wali

Ma Yuanzhang

Lahir sekitar 1850, ia adalah syekh terkemuka menhuan Jahriyah sekaligus keturunan langsung pendirinya, Ma Mingxin. Setelah penumpasan pemberontakan Muslim Gansu 1895, ia membangun kembali organisasi Jahriyah yang porak-poranda dan memindahkan markasnya ke Zhangjiachuan di Gansu timur; para pengikutnya menyebutnya 'Nabi Baru'. Ia wafat pada 16 Desember 1920 bersama putranya ketika sebuah masjid runtuh dalam gempa Haiyuan. Makamnya di Xuanhuagang dekat Zhangjiachuan adalah ziarah Jahriyah utama. (Sumber: en.wikipedia.org 'Ma Yuanzhang' & 'Ma Hualong'; J. Lipman, Familiar Strangers)

ZhangjiachuanWafat 1339 HLihat
Ulama

Sultan Syarif ul-Hasyim (Sayyid Abu Bakar)

Syarif ul-Hasyim, yang bernama lengkap Sayyid Abu Bakar Abirin al-Hasyimi, adalah seorang ulama sufi dan mubalig keturunan sayyid melalui garis Ba-Alawi dari Hadramaut (Yaman), yang datang ke Sulu dari Johor. Menetap di Buansa pada paruh pertama abad ke-15, ia menghabiskan sekitar tiga puluh tahun menyebarkan Islam di kawasan itu, menetapkan hukum pertama Sulu 'Diwan' yang berlandaskan Al-Qur'an, dan mendirikan lembaga politik Islam sehingga membentuk Kesultanan Sulu. Karena itu ia termasuk tokoh penting dalam sejarah Islam Asia Tenggara. Makamnya secara tradisi disebut berada di lereng Gunung Tumantangis (Bud Tumantangis) yang keramat di Indanan, Sulu; lokasi pastinya masih diperselisihkan.

SuluLihat
Ulama

Sayyid Ajall Syamsuddin Umar al-Bukhari

Seorang negarawan Muslim Asia Tengah kelahiran Bukhara, konon berasal dari keturunan Nabi, yang naik dalam pemerintahan Yuan Mongol dan diangkat sebagai gubernur pertama provinsi Yunnan pada 1274. Ia membangun masjid-masjid pertama di Yunnan serta menyebarkan Islam dan pendidikan, dan dipandang sebagai leluhur pendiri komunitas Muslim Hui Yunnan — banyak keluarga Hui menisbatkan marga Ma mereka kepadanya. Ia wafat di Kunming pada 1279 dan dimakamkan di pinggiran utara kota; makamnya adalah tempat ziarah sekaligus cagar budaya yang dilindungi negara. Meski seorang negarawan, ia dihormati sebagai tokoh pendiri Islam di Tiongkok. (Sumber: TDV İslâm Ansiklopedisi; Encyclopaedia Iranica 'Sayyed Ajall'; zh.wikipedia.org '赛典赤·赡思丁墓')

KunmingWafat 678 HLihat
Wali

Qi Jingyi (Hilaluddin)

Seorang sufi Muslim Hui Tiongkok kelahiran 1656 yang nama Arabnya Hilaluddin; ia adalah pendiri tarekat Qadiriyah di Tiongkok, dihormati sebagai 'Qi Daozu' (Guru Agung Qi). Pada masa mudanya ia bertemu Afaq Khoja lalu menjadi murid Khwaja Abdullah; menjalani hidup zuhud dan membujang, ia berdakwah di Shaanxi, Sichuan, dan Gansu serta mendirikan menhuan Qadiriyah (silsilah persaudaraan). Ia wafat pada 1719 dan dimakamkan di kota asalnya Hezhou (kini Linxia); Da Gongbei ('Kubah Agung') yang dibangun di atas makamnya adalah ziarah Qadiri utama di Tiongkok. (Sumber: en.wikipedia.org 'Qi Jingyi'; islamichina.com; baike.baidu.com '大拱北')

LinxiaWafat 1131 HLihat
Wali

Syekh Sayyid Sahabdin Waliyullah

Seorang sufi yang bernasab pada silsilah wali Nagore, Syah Hamid Meeran Sahib dari India Selatan. Masjid Meera Makam di Kandy dinamai menurut gurunya, Meeran Sahib, dan Sahabdin Waliyullah sendiri dimakamkan di dalam masjid ini. Tanah masjid dihadiahkan oleh raja Kandy Kirti Sri Rajasinha kepada seorang abdi istana Muslim, dan bangunan yang ada sekarang dibangun antara tahun 1855 dan 1864. Masjid ini adalah pusat rohani penting bagi Muslim Kandy.

KandyLihat