Masuk

Atlas Digital Geografi Spiritual

Para Wali

1113 catatan · Halaman 31/47

Dikenang di Jumadil Awal

Wali yang haul wafatnya jatuh pada bulan Hijriah ini (bersumber).

Wali

Sunan Kalijaga (Raden Said)

Wali Walisongo paling terkenal dan asli Jawa, menjadikan seni tradisional seperti wayang dan gamelan sebagai sarana dakwah. Wafat sekitar 1000 H/1592 M; makamnya di Kadilangu (Demak). (Sumber: Wikipedia; NU Online.)

DemakWafat 1000 HLihat
Wali

Sunan Giri (Raden Paku)

Wali Walisongo yang mendirikan pesantren di bukit Giri dekat Gresik dan negeri 'Giri Kedaton', membentuk jaringan dakwah luas hingga Indonesia timur. Wafat sekitar 912 H/1506 M. (Sumber: Wikipedia; NU Online.)

GresikWafat 912 HLihat
Wali

Sunan Kudus (Ja'far Shadiq)

Wali Walisongo yang mendirikan kota Kudus (dari al-Quds) dan membangun Masjid Menara Kudus berarsitektur Hindu-Jawa. Wafat sekitar 958 H/1550 M. (Sumber: Wikipedia; NU Online.)

KudusWafat 958 HLihat
Wali

Sunan Drajat (Raden Qasim)

Putra lain Sunan Ampel, wali Walisongo yang dikenal dengan dakwah berpusat pada keadilan sosial dan kepedulian pada fakir. Wafat sekitar 928 H/1522 M. (Sumber: Wikipedia; NU Online.)

LamonganWafat 928 HLihat
Wali

Sunan Bonang (Makhdum Ibrahim)

Putra Sunan Ampel, wali Walisongo yang menyebarkan Islam lewat seni, sastra, dan musik gamelan Jawa (alat 'bonang' dinisbahkan padanya). Wafat sekitar 931 H/1525 M; makamnya di Tuban. (Sumber: Wikipedia; NU Online.)

TubanWafat 931 HLihat
Wali

Sunan Ampel (Raden Rahmat)

Tokoh sentral Walisongo; berasal Champa, mendirikan pesantren penting di kawasan Ampel, Surabaya. Dianggap guru atau kerabat sebagian besar wali lain. Wafat 886 H/1481 M. (Sumber: Wikipedia; NU Online.)

SurabayaWafat 886 HLihat
Wali

Maulana Malik Ibrahim (Sunan Gresik)

Dianggap yang tertua dan pelopor sembilan wali (Walisongo) penyebar Islam di Jawa; kemungkinan berasal Hadramaut/Persia, tiba di Jawa Timur akhir abad ke-14 dan menetap di Gresik. Wafat 822 H/1419 M; nisan bertarikhnya masih ada. (Sumber: Wikipedia; NU Online.)

GresikWafat 822 HLihat
Wali

Bulleh Shah

Salah satu penyair sufi Punjab terbesar (sek. 1680–1757), murid Shah Inayat Qadiri. Kafi-kafinya sentral dalam musik devosional. Wafat di Kasur 1757. (Sumber: Wikipedia.)

KasurWafat 1171 HLihat
Wali

Fariduddin Ganjshakar (Baba Farid)

Wali terkemuka tarekat Chishti abad ke-13, penerus Qutbuddin Bakhtiar Kaki dan guru Nizamuddin Auliya. Bait-baitnya dimasukkan ke kitab Sikh Guru Granth Sahib. Wafat 679 H/1266 M. (Sumber: Wikipedia.)

PakpattanWafat 679 HLihat
Wali

Abdullah Shah Ghazi

Mistikus dan wali-pejuang semi-legendaris abad ke-8 yang dihormati sebagai pelindung spiritual Karachi. Historisitasnya tidak pasti, namun makamnya di bukit Clifton lebih tua dari kota modern. (Sumber: Wikipedia; Maclean 1989.)

KaraçiWafat 151 HLihat
Wali

Sachal Sarmast

Bernama asli Abdul Wahab, penyair sufi Qadiri mazhab Darazi yang menulis dalam tujuh bahasa. Dijuluki 'Sachal' dan 'Sarmast', disebut 'Mansur Kedua'. Wafat 1242 H/1825 M. (Sumber: Wikipedia.)

KhairpurWafat 1242 HLihat
Wali

Syekh Yusuf al-Makassari

Ulama dan sufi Indonesia; pendiri cabang Yusufiyah dari tarekat Khalwatiyah di Sulawesi Selatan, pemimpin perlawanan terhadap Belanda di Banten, dan dipandang sebagai peletak dasar sejati pertama Islam di Afrika Selatan, negeri tempat ia diasingkan. Nama lengkapnya Abul Mahasin Muhammad Yusuf Hadiyyatullah Tajul Khalwati al-Makassari . Ia lahir pada 3 Juli 1626 di desa Moncong Loe, wilayah Gowa, Sulawesi Selatan (Celebes). Menurut tradisi setempat, ibunya adalah putri kepala desa, sedangkan ayahnya seorang petani atau kepala desa yang berkecukupan; ia sendiri menyebut nama ayahnya Abdullah dalam salah satu karyanya. Setelah belajar membaca Al-Qur'an, ia menimba bahasa Arab, fikih, akidah, hadis, tafsir dan tasawuf dari Sayyid Ba'alawi bin Abdullah Thahir, seorang guru keturunan Arab. Pada usia lima belas tahun ia melanjutkan pendidikannya di Cikoang pada Jalaluddin al-Aidid. Di usia muda ia menikahi putri Sultan Alauddin dari Gowa. Pada September 1644 ia bertolak dari pelabuhan Makassar menuju Hijaz. Dalam perjalanan, di Jawa Barat ia bertemu tokoh-tokoh penting yang dekat dengan keluarga kesultanan dan lingkungan istana, tinggal beberapa waktu, lalu meneruskan perjalanan ke Aceh. Di sana ia tidak dapat berjumpa dengan Nuruddin ar-Raniri, yang ingin ia jadikan guru, karena Raniri saat itu terpaksa meninggalkan Aceh; kemungkinan besar ia bertemu dengannya di kota Ranir di wilayah Gujarat, India. Memang dalam salah satu karyanya ia menyebut Raniri sebagai syekh dan gurunya, dan menyatakan bahwa ia menerima ijazah Qadiriyah darinya. Setelah bertemu pula dengan Umar bin Abdullah Ba Syaiban di India, ia pergi ke Yaman; di Zabid ia menerima ijazah Naqsyabandiyah dari Muhammad bin Abdul Baqi an-Naqsyabandi dan ijazah Ba'alawiyah dari Sayyid Ali az-Zabidi. Ia menunaikan haji di Mekah lalu pindah ke Madinah; tahun-tahun keberadaannya di Hijaz bertepatan dengan masa ulama Sumatra, Abdurrauf as-Singkili. Shafiyuddin al-Qusyasyi, Ibrahim al-Kurani dan Hasan al-Ajami dapat disebut di antara guru-gurunya di sana. Di Madinah ia masuk tarekat Syattariyah melalui Ibrahim al-Kurani dan menerima ijazahnya. Kemudian ia pergi ke Damaskus, berbaiat kepada Abul Barakat Ayyub bin Ahmad ad-Dimasyqi al-Khalwati, imam Masjid Ibnu Arabi, dan dalam karya-karyanya ia memuji syekh ini, yang memberinya gelar Tajul Khalwati . Dicatat bahwa selama di Mekah ia mengajar para pelajar asal Melayu-Indonesia. Syekh Yusuf, yang tampaknya tinggal sekurang-kurangnya dua puluh tahun di Hijaz dan Damaskus di bawah pemerintahan Utsmani, diduga kembali ke tanah airnya pada 1664, 1668 atau 1672. Sekembalinya, ia mendapati bahwa hukum-hukum Islam tidak dijalankan sepenuhnya di Gowa, dan minuman keras, judi serta candu merajalela; ia meminta agar semua itu dilarang, tetapi ketika raja menolak usulnya dengan alasan akan menimbulkan kerugian keuangan, ia meninggalkan kampung halamannya dan menetap di Banten. Di sana ia menikahi putri sultan baru Banten, Ageng Tirtayasa, sahabat lamanya. Sumber-sumber Belanda menggambarkannya sebagai rohaniwan tertinggi kesultanan, tokoh yang berpengaruh dalam urusan agama dan politik. Ketika Sultan Abdul Jalil dari Gowa mengundangnya pulang melalui sebuah utusan, ia menolak dan mengirim sebagai gantinya muridnya yang tunanetra dari Makassar, Abdul Basyir ad-Dharir, yang telah ia beri ijazah kekhalifahan Khalwatiyah dan Naqsyabandiyah. Tahun-tahun pertamanya di Banten ia isi dengan ilmu, bimbingan dan karya tulis; di antara murid-muridnya terdapat anak-anak keluarga kesultanan dan para pembesar Banten, termasuk putra mahkota Abdul Qahhar. Lambat laun Syekh Yusuf mulai turut campur dalam urusan politik dan mendapati dirinya berada di tengah perseteruan di dalam wangsa; ia juga harus melawan tekanan dan campur tangan Belanda atas Banten. Ketika Abdul Qahhar merebut takhta dan menjalankan politik yang berpihak kepada Belanda, Syekh Yusuf berdiri di pihak mantan sultan Ageng dan putranya, Putra Mahkota Purbaya, yang menghendaki Belanda diusir dari kawasan itu. Akibat operasi militer yang digelar Abdul Qahhar bersama Belanda pada 1682, Sultan Ageng diasingkan ke Batavia (kini Jakarta) pada 1683. Syekh Yusuf meneruskan perlawanan bersama pasukan bersenjata sekitar 4000 orang yang terdiri atas orang Banten, Makassar, Bugis dan Jawa; akhirnya ia terpaksa menyerah karena tipu daya Belanda, dinyatakan sebagai tawanan perang di Cirebon dan dipenjarakan, dan perlawanan Banten pun berakhir. Karena khawatir akan pengaruhnya atas umat Islam, pejabat Belanda mengasingkannya pada 12 September 1684 bersama kedua istrinya, anak-anaknya, para pelayan, dua belas murid dan sahabat dekatnya ke Sri Lanka (Sailan). Di sana Syekh Yusuf mencurahkan diri pada kegiatan ilmiah dan menulis sebagian besar karyanya. Pada 1689 permohonan Sultan Abdul Jalil dari Gowa dan para pembesar kesultanan agar ia dibebaskan ditolak oleh gubernur jenderal Belanda di Batavia. Karena sultan Gowa terus mendesak, pada 7 Juli 1693 diputuskan untuk mengasingkan Syekh Yusuf, yang tetap menjalin hubungan dengan orang-orang sekampungnya, kali ini ke kota Cape Town di Afrika Selatan. Dibawa ke Cape Town pada 2 April 1694, Syekh Yusuf dan kawan-kawannya ditempatkan di Zandaliet, sebuah desa pertanian di muara Sungai Eerste; tempat itu kini dikenal sebagai Macassar . Menghadapi Belanda yang tidak mengizinkan umat Islam beribadah, memaksa budak-budak Melayu memeluk Kristen, bahkan menekan dirinya pula, ia berjuang agar kaum Muslim Melayu dan Indonesia, minoritas kecil di sana, tetap memelihara iman mereka; ia juga membawa sebagian penduduk setempat memeluk Islam. Diterima bahwa tarekat Qadiriyah, Syattariyah dan Rifa'iyah tersebar di kawasan itu melalui dirinya. Ia wafat di Cape Town pada 22 Mei 1699 dalam usia tujuh puluh tiga tahun dan dimakamkan di Faure , dekat tempat tinggalnya. Atas permintaan Sultan Abdul Jalil dari Gowa kepada pemerintah Belanda, tanah dan serpihan tulang yang diambil dari makamnya dibawa ke kampung halamannya, Gowa, pada April 1705 dan dimakamkan di Lakiung , tempat makam keluarga kesultanan. Sultan Abdul Jalil memberikan sejumlah keistimewaan kepada keturunannya dan menikahkan salah seorang putrinya, Sitti Labibah, dengan putra mahkota Karaeng Anamoncong (Sultan Ismail). Lingkaran Pengaruhnya — Syekh Yusuf, yang menghabiskan sebagian besar hidupnya dalam pengasingan, adalah ulama dan sufi yang berjasa bagi perkembangan Islam baik di tanah airnya maupun di tempat-tempat pengasingannya, sekaligus pemimpin dan tokoh pergerakan yang membimbing masyarakat Muslim. Perjuangannya melawan Belanda dan pengasingannya membuat ia dikenang sebagai pahlawan di negerinya, dan pada 1995 ia ditetapkan sebagai pahlawan nasional Indonesia. Ia meninggalkan pengaruh yang sangat kuat di Afrika Selatan, tempat ia tinggal lima tahun; kaum Muslim Afrika Selatan merayakan tahun 1994 sebagai peringatan 300 tahun kedatangannya ke negeri mereka, Presiden Nelson Mandela menghargai jasanya bagi Afrika Selatan, dan pada 25 September 2005 pemerintah Afrika Selatan menetapkannya sebagai tokoh bangsa. Silsilah cabang Yusufiyah dari Khalwatiyah di Sulawesi Selatan, yang dinisbatkan kepadanya, terus bersambung hingga hari ini. Kepenyairan dan Garis Tasawufnya — Menurut sumber, pemahaman tasawufnya bukanlah tasawuf yang menjauhi dunia; ia menempuh jalan tengah yang moderat dan menjaga keseimbangan dunia dan akhirat. Ia menempatkan tauhid di pusat pemikiran tasawufnya dan mengibaratkannya sebatang pohon yang cabang dan daunnya adalah makrifat dan ibadah. Ia menegaskan bahwa seorang mukmin yang tidak menjalankan ketentuan syariat tidak dapat naik ke derajat insan kamil. Meskipun menerima pandangan tasawuf Ibnu Arabi, ia bukan pengikut penuh ajaran wahdatul wujud-nya; ia memandang tasawuf sebagai sistem pemikiran yang membantu memperkuat penghambaan kepada Allah serta memperindah akhlak melalui amal saleh dan zikir. Dari penggunaan istilah "tarekat Muhammadiyah" dan "tarekat Ahmadiyah" dalam karya-karyanya, ada yang berpendapat bahwa ia mewakili pandangan sufi yang pembaru pada zamannya. Ia menerima ijazah Qadiriyah, Naqsyabandiyah, Ba'alawiyah, Syattariyah dan Khalwatiyah. Karya-karyanya — Lebih dari dua puluh karyanya telah teridentifikasi; sebagian besar berbahasa Arab, beberapa dalam bahasa daerah Indonesia, yaitu Bugis (Makassar) dan Banten (Sunda). Karya-karya itu membahas tasawuf, akhlak, fikih dan akidah; ia juga menulis risalah tentang hubungan tasawuf dengan ilmu kalam. Dalam risalah-risalahnya ia kerap mengulas konsep tauhid, makrifat dan syariat, serta banyak merujuk kepada al-Ghazali, Junaid al-Baghdadi, Ibnu Arabi, Abdul Karim al-Jili dan Ibnu Athaillah as-Sakandari. Seluruh karyanya ia tulis di Banten dan dalam pengasingan di Sri Lanka; sebagian karya yang ditulis di Sri Lanka dikenal pula dengan nama "Sailaniyah". Sebagian besar naskahnya tersimpan di Perpustakaan Nasional di Jakarta, dan dua belas di antaranya di Perpustakaan KITLV di Leiden. Di antara dua puluh tiga karya yang diidentifikasi Nabilah Lubis terdapat al-Barakat as-Sailaniyyah , Bidayat al-Mubtadi , Fath Kaifiyyat adz-Dzikr , Habl al-Warid , Mathalib as-Salikin , an-Nafahat as-Sailaniyyah , Qurrat al-'Ain , Safinat an-Najat , Sirr al-Asrar , Taj al-Asrar , Tuhfat al-Abrar dan Zubdat al-Asrar , yang terhitung salah satu yang terpenting. Dua puluh satu karyanya diterjemahkan ke bahasa Indonesia oleh Tudjimah (Jakarta 1987), dan Suleman Essop Dangor menerjemahkan Zubdat al-Asrar ke bahasa Indonesia dan Inggris (Durban 1990). Turbah dan Kompleksnya — Di atas makamnya di Cape Town dibangun sebuah turbah besar pada 1903-1913 oleh Haji Sulaiman Syah Muhammad, seorang Muslim Cape Town keturunan India; kawasan sekitarnya, bersama makam empat muridnya dan bangunan-bangunan lain, kemudian ditata ulang. Ditetapkan sebagai warisan nasional, turbah ini kini menjadi salah satu tempat ziarah terpenting dan pusat komunitas Muslim Melayu-Indonesia di sana. Adapun di Gowa, makam istrinya yang berasal dari Gowa kemudian dipindahkan ke samping makamnya di Lakiung, tempat serpihan tulang dan tanah itu dikebumikan; Sultan Abdul Jalil memulai tradisi upacara ziarah tahunan di makamnya dan makam istrinya.

GowaWafat 1111 HLihat
Wali

Shah Abdul Latif Bhittai

Penyair klasik terbesar bahasa Sindhi dan sufi Qadiri; syairnya dihimpun sebagai 'Shah Jo Risalo'. Makamnya dibangun di bukit Bhit. Wafat 1165 H/1752 M. (Sumber: Wikipedia.)

Bhit ŞahWafat 1165 HLihat
Wali

Lal Shahbaz Qalandar

Sufi Persia, penyair, dan darwis qalandar kelahiran Marwand 1177 dari keluarga Sayyid. Menetap di Sehwan (Sindh), wali paling dihormati di kawasan itu. Wafat 673 H/1274 M. (Sumber: Wikipedia.)

SehvenWafat 673 HLihat
Wali

Bahauddin Zakariya

Sufi yang menegakkan Suhrawardiyah di India; syekh terbesar Multan. Nama lengkapnya Abû Muhammad Bahâ'uddîn Zakariyyâ b. Wajîhuddîn b. Kamâluddîn al-Multânî . Ia lahir di desa Kot Karur dekat Multan di Punjab. Setelah masa belajar yang berlangsung lima belas tahun ia pergi ke Khurasan dan Bukhara, lalu ke Hijaz, tempat ia tinggal lima tahun. Di Madinah ia menerima ijazah dari Syekh Kamâluddîn Muhammad al-Yamanî. Ia menyempurnakan suluknya di Bagdad bersama Syihâbuddîn 'Umar as-Suhrawardî ; sumber mencatat bahwa pendidikan itu selesai dalam tujuh belas hari. Dengan demikian ia memasuki Suhrawardiyah. Ia kemudian menetap di Multan dan mendirikan zawiyahnya di sana. Lingkaran Pengaruhnya — Penggantinya adalah putranya Shadruddîn 'Ârif . Muridnya yang paling masyhur adalah penyair sekaligus sufi Fakhruddîn al-'Irâqî , yang dinikahkannya dengan putrinya. Cabang Bahâ'iyah dinamai menurut namanya; penyebaran Suhrawardiyah di India sebagian besar adalah karyanya. Karya-karyanya — Ia menyusun sebuah himpunan hadis, tetapi karya itu hilang; Washâyâ -nya, yang terpelihara dalam sumber-sumber kemudian, dan Munâjât-i Pîr Dastgîr sampai ke masa kita. Turbah dan Kompleksnya — Turbahnya di dalam benteng lama Multan hingga hari ini masih menjadi tempat ziarah.

MultanWafat 661 HLihat
Wali

Ali al-Hujwiri (Data Ganj Bakhsh)

Pengarang sufi yang dikenal dengan karyanya Kasyf al-Mahjub ; di anak benua India ia dikenal dengan gelar Data Ganj Bakhsh , "wali agung pemberi harta karun". Nama lengkapnya Abul Hasan Ali bin Utsman bin Abi Ali al-Jullabi al-Hujwiri . Menurut Ghulam Sarwar, yang pertama kali memakai gelar ini untuknya ialah pendiri Chishtiyah, Mu'inuddin Hasan al-Chishti (w. 633/1236), yang menyapanya demikian ketika mendoakannya setelah menyelesaikan khalwat di makamnya. Ia lahir di Ghazna; berdasarkan keterangannya tentang para sufi yang ia temui, dapat dikatakan ia lahir pada awal abad XI. Kapan keluarganya, yang berasal dari Iran atau India, menetap di Ghazna tidak diketahui. Dalam kitabnya ia memakai nisbah Hujwiri dan Jullabi, lalu lama-kelamaan masyhur sebagai Hujwiri; nama lama daerah Arbabha dekat Ghazna, tempat makam ayahnya Syaikh Utsman, kemungkinan Jullab atau Hujwir. Makam ibunya ada di Ghazna, di samping makam putranya yang lain, Syaikh Tajul Auliya. Ia menerima ilmu agama pertama dari ayahnya, dan dari Kasyf al-Mahjub diketahui bahwa ia mempelajari fikih menurut mazhab Hanafi. Mengikuti tradisi ulama zamannya ia melakukan perjalanan panjang; tampaknya ia menjelajahi Syam, Turkestan, Qazvin, India, Irak, Khuzistan, Azerbaijan, Jurjan, Khurasan dan Transoksiana, meski kapan perjalanan itu terjadi tidak diketahui. Ia menuturkan bahwa di Bagdad ia melihat sekelompok zindik yang berlagak sufi, bahwa di Farghana ia mengunjungi Bab Farghani, bahwa bila menghadapi kesulitan ia pergi ke Bistham menziarahi makam Bayazid Bisthami, bahwa masing-masing dari 300 sufi yang ia lihat di Khurasan sebanding dengan dunia, dan bahwa di Bukhara ia berkenalan dengan Syaikh Ahmad-i Samarqandi. Walaupun ia menulis tentang haji, tidak ada catatan dalam kitabnya bahwa ia pergi ke Hijaz. Ia umumnya tinggal di wilayah kekuasaan Ghaznawiyah; ia menghadiri majelis ilmiah di hadapan Mahmud dari Ghazna dan dalam salah satunya membungkam seorang cendekiawan India dalam perdebatan. Ketika memulai perjalanan pertamanya, kemungkinan ia belum masuk tasawuf. Ia berkenalan dengan mursyid sejatinya, Abul Fadhl al-Khuttali , di sekitar Damaskus, pergi bersamanya ke Azerbaijan dan tidak berpisah darinya sampai ia wafat. Ia menyebutkan bahwa al-Khuttali menguasai tafsir, menganut pandangan Junaid al-Baghdadi dalam tasawuf, dan menentang ulama dan sufi yang mementingkan bentuk lahir. Ia juga mengambil manfaat dari sufi seperti Abul Abbas asy-Syaqqani, Abul Qasim al-Jurjani dan Muzaffar bin Ahmad bin Hamdan. Sepeninggal mursyidnya, sesuai wasiatnya, ia pergi ke India bersama sahabatnya Ahmad bin Hammad as-Sarakhsi dan Abu Sa'id Hujwiri, lalu mulai mengajar dan menyebarkan Islam di masjid yang ia bangun di sebelah barat kota Lahore di tepi sungai Ravi. Berkat kegiatannya banyak orang India, terutama wakil penguasa Lahore, Rai Raju, masuk Islam. Ia tentu pergi ke Lahore di tengah kekacauan di Ghazna setelah kekalahan Sultan Ghaznawi Mas'ud dari Seljuk, kemungkinan pada 431 (1039). Ketika ia sibuk menulis Kasyf al-Mahjub , tiga raja India bersekutu mengepung Lahore dan menawan banyak muslim (435/1043); Hujwiri termasuk di antara 5000 muslim yang dibebaskan Sultan Maudud bin Mas'ud. Tanggal wafatnya tidak pasti; tanggal yang dianggap benar oleh sumber ialah 465 (1072). Makamnya berada di pelataran masjidnya di Lahore. Kepenyairan dan Garis Tasawufnya — Ia wakil yang sadar dari paham tasawuf Junaid al-Baghdadi. Sembari memberi bobot pada akal sebesar al-Muhasibi, ia mencintai sepenuh hati sufi seperti Bayazid Bisthami dan al-Hallaj, namun cukup jernih untuk menasihatkan agar al-Hallaj, yang ia kagumi, tidak diikuti dan tidak dijadikan teladan. Ia menggunakan ukuran rasional dan logis seluas mungkin untuk mengungkapkan kedalaman kehidupan sufi; sumber mencatat bahwa dalam hal ini dapat dikatakan ia melampaui as-Sarraj, al-Kalabadzi, as-Sulami dan al-Qusyairi. Ia memandang Abu Hanifah bukan hanya ahli fikih, melainkan juga zahid yang menjadi guru banyak sufi seperti Ibrahim bin Adham, Dawud ath-Tha'i dan Bisyr al-Hafi. Tafsirnya atas 238 ayat dan 138 hadis yang ia nukil dalam kitabnya menunjukkan kematangannya dalam tafsir dan hadis. Ia sendiri menyebutkan bahwa diwannya telah hilang. Karya-karyanya — Karyanya yang paling masyhur ialah Kasyf al-Mahjub berbahasa Persia, yang kemungkinan mulai ia tulis pada 435 (1043) di Lahore; inilah kitab pertama yang membahas persoalan teoretis dan praktis tasawuf secara sistematis. Kitab ini ditulis atas permintaan Abu Sa'id Hujwiri. Seraya menuturkan bahwa seorang penipu mengaku karyanya, Minhaj ad-Din , sebagai miliknya, pengarang menyebut namanya sendiri dua puluh delapan kali di berbagai tempat dalam kitab agar tidak bernasib sama. Bagian pertama membahas ilmu, kefakiran, hakikat tasawuf, khirqah dan malamah, lalu memuat biografi empat khalifah pertama, para imam Ahlulbait dan para sufi; kemudian bagian paling orisinal, kajian atas dua belas aliran sufi (Muhasibiyah, Qassariyah, Thaifuriyah, Junaidiyah, Nuriyah, Sahliyah, Hakimiyah, Kharraziyah, Khafifiyah, Sayyariyah, Hallajiyah, Hulmaniyah), dan pengarang menyatakan dua yang terakhir berada di luar syariat. Bagian kedua, dalam sebelas subbagian yang masing-masing diawali "Kasyf al-Hijab" , membahas makrifatullah, tauhid, iman, ibadah, persahabatan dan istilah-istilah sufi. Kitab ini pertama kali dicetak pada 1903 di Lahore; edisi kritis Zhukovsky terbit di Leningrad pada 1926, dan kitab ini diterjemahkan ke bahasa Inggris oleh Nicholson (London 1911), ke bahasa Arab oleh Is'ad Abdul Hadi Qandil, dan ke bahasa Turki oleh Süleyman Uludağ (Istanbul 1982). Kitab-kitab lain yang ia sebut di dalamnya: Minhaj ad-Din , Kitab al-Fana wal-Baqa , syarah ucapan al-Hallaj, Kitab al-Bayan li Ahl al-Iyan , Nahw al-Qulub , Asrar al-Khiraq wal-Mulawwanat , ar-Ri'ayah bi Huquqillah , Kitab al-Iman . Turbah dan Kompleksnya — Makamnya terletak di pelataran masjidnya di Lahore dan dikenal sebagai Makam Data Ganj Bakhsh . Sultan Ghaznawi Ibrahim bin Mas'ud membangun sebuah bangunan di samping makam, bangunan baru ditambahkan pada masa Akbar Syah, dan pada 1861 Haji Nur Muhammad Sado membangun turbah berkubah di atas makam. Kemudian Miyan Ghulam Gilani membangun masjid baru menggantikan masjid yang didirikan Hujwiri semasa hidupnya, dan tempat itu menjadi sebuah kompleks. Pada dinding dalam turbah tertulis tiga syair karya Mu'inuddin al-Chishti, Abdurrahman Jami dan Muhammad Iqbal yang baris kronogramnya sesuai dengan tanggal wafatnya. Makam ini kini termasuk tempat yang paling banyak diziarahi kaum muslim Pakistan; meski nama Hujwiri hampir tidak dikenal di wilayah itu, tak seorang pun tidak mengenal nama Data Ganj Bakhsh, dan setiap tahun diselenggarakan peringatan selama tujuh hari atas namanya.

LahorWafat 465 HLihat
Wali

Sayyid Makhdum Asyraf Jahangir Semnani

Sufi yang hidup di India dan dikenal dengan nisbah Simnani; dalam sumber-sumber ia disebut Sayyid Asyraf Jahangir Simnani , dan di satu tempat Sayyid Muhammad Asyraf Jahangir Simnani. Ia tidak memiliki entri tersendiri dalam Ensiklopedia Islam TDV; keterangan di bawah ini dihimpun dari empat entri berbeda yang menyebutnya. Ia terhitung di antara murid termasyhur Alauddaulah as-Simnani, pir cabang Rukniyah dari Kubrawiyah. Namun menurut entri Chistiyah, ia salah seorang dari dua murid unggulan Syaikh Alauddin bin As'ad (w. 801/1398), yang dididik oleh Akhi Siraj, penyebar Chistiyah di Benggala. Ia pergi ke India dan menetap di dekat Awadh (Oudh); cabang Asyrafiyah dari Kubrawiyah dinisbatkan kepadanya. Bersama murid unggulan lainnya, Sayyid Nur Quthb-i Alam (w. 813/1410), ia memainkan peran sangat penting dalam memperkenalkan Chistiyah di Benggala, Bihar dan bagian timur provinsi-provinsi bersatu. Badi'uddin Quthbul Madar, pendiri tarekat Madariyah, menunaikan haji pertamanya bersamanya; dinukilkan bahwa Syaikh Asyraf memujinya dalam sebagian risalahnya dan menyebutnya seorang "Uwaisi". Ia juga disebut di antara para wali terkenal yang pernah menjalin hubungan dengan syaikh Chisti Gisudaraz. Ia wafat pada 808 (1405); sumber-sumber tidak menyebutkan tempat wafatnya. Karya-karyanya — Surat-suratnya, dengan judul Maktubat-i Asyrafi , terhitung di antara contoh utama genre surat dalam tradisi Chisti. Bahwa ia menulis sejumlah risalah tampak dari entri Badi'uddin Quthbul Madar. Karya Nizamuddin Yamani, Latha'if-i Asyrafi (Delhi 1395), tercantum dalam daftar pustaka entri Chistiyah dan Gisudaraz.

KichauchaWafat 808 HLihat
Wali

Alauddin Ali Ahmad Sabir Kaliyari

Sufi abad ke-13, pendiri cabang Sabiriyah tarekat Chishti. Menurut tradisi keponakan dan penerus Baba Farid, digelari 'Sabir'. Makamnya di Piran Kaliyar dekat Roorkee, Uttarakhand. (Sumber: TDV; Wikipedia.)

Piran KalyarWafat 690 HLihat
Wali

Salim Chishti

Salah seorang syaikh tarekat Chistiyah di India masa Mughal; sumber menyebut nama lengkapnya Syaikh Salim bin Bahauddin Chisti . Namanya terkait dengan kelahiran Jahangir, putra Akbar, dan dengan pendirian kota Fatehpur Sikri. Tidak ada artikel TDV tersendiri tentang dirinya; berikut ini adalah keterangan tentangnya dalam artikel-artikel mengenai kota, masjid dan sang kaisar. Ia tinggal di sebuah gua di dekat desa Sikri, di barat daya Agra. Ketika Akbar mengunjunginya (1569), sang syaikh menyampaikan kabar gembira kepada sultan, yang belum memiliki putra, bahwa tak lama lagi akan lahir baginya seorang putra. Akbar lalu membangun sebuah istana di sana. Putranya lahir di Sikri pada 30 Agustus 1569, dan Akbar memberinya nama syaikh yang sangat dicintainya, Salim . Di istana sang pangeran dipanggil Syaikhu Baba ; kelak ia naik takhta dengan nama Jahangir. Setelah kelahiran pangeran, Akbar memerintahkan pembangunan gedung-gedung lain di sekitar istana dan mendirikan sebuah kota di sana, yang ia namai Fatehpur ketika kembali dengan kemenangan dari ekspedisi Gujarat pada 1574. Menurut artikel tentang Akbar, Salim Chisti berperan besar dalam kecenderungan sang sultan kepada suasana mistik. Artikel-artikel ini tidak menyebut tanggal wafatnya; makamnya berada di Fatehpur Sikri. Turbah dan Kompleksnya — Masjid Agung Fatehpur Sikri, salah satu bangunan terpenting kota itu yang selesai pada 979 (1571-72), terletak di dekat istana Akbar dan khanqah Salim Chisti. Di sisi barat pelataran masjid terdapat dua turbah, milik Salim Chisti dan cucunya Islam Khan. Turbah Salim Chisti, yang seluruhnya dari marmer putih, menonjol dengan kisi-kisi marmer berukir pola geometris yang menutupi beranda dan jendela-jendelanya.

Fatehpur SikriWafat 979 HLihat
Wali

Nasiruddin Chiragh Dehlawi

Salah seorang syaikh besar tarekat Chishtiyah di India; khalifah Nizamuddin Auliya dan pewaris khanqah-nya di Delhi. Nama lengkapnya Syaikh Nasiruddin Mahmud bin Yahya ; ia dikenal dengan julukan Chiragh-i Dehli (Pelita Delhi). Ia lahir pada 673 (1274) atau 675 (1276) di kota Awadh, India utara. Keluarganya berasal dari Iran. Pada usia sembilan tahun ia kehilangan ayahnya, seorang pedagang wol yang kaya; ibunya sangat cermat mengurus pendidikannya. Ia mempelajari ilmu-ilmu agama dari Maulana Abdul Karim Syirwani dan Maulana Iftikharuddin Gilani. Sejak muda ia lebih memilih mengabdikan diri pada zuhud, riyadhah dan ibadah daripada menekuni ilmu. Pada usia dua puluh lima tahun ia meninggalkan dunia dan hidup sekitar lima belas tahun di hutan-hutan di luar kota Awadh dengan berpuasa terus-menerus. Pada usia empat puluh atau empat puluh tiga tahun ia meninggalkan wilayah Awadh menuju Delhi dan bergabung dengan para murid Nizamuddin Auliya , syaikh Chishti paling terkenal yang dijuluki "sultanul-masyayikh". Dalam waktu singkat ia menjadi murid yang paling dikasihi mursyidnya dan menerima khilafah pada 724 (1324). Karena memandang sama' yang sangat dicintai kaum Chishti bertentangan dengan sunnah, ia tidak menghadiri majelis sama' Nizamuddin Auliya, dan syaikhnya menerima sikap itu dengan lapang dada. Setelah beberapa waktu di Delhi ia meminta izin syaikhnya — melalui murid lain, penyair Amir Khusraw Dihlawi — untuk pergi dan kembali ke hutan dan gunung; Nizamuddin justru menasihatinya agar tetap tinggal di Delhi dan bersabar atas kesukaran yang dihadapinya di sana. Ketika Nizamuddin Auliya wafat (725/1325) ia memimpin khanqah yang didirikan syaikhnya; seluruh kaum Chishti Delhi mulai berkumpul di sekelilingnya, dan karena itulah ia menerima julukan "Chiragh-i Dehli". Ia mengalami tekanan dari Sultan Delhi Muhammad bin Tughluq yang sejak lama memusuhi kaum Chishti: sementara prinsip Chishti menuntut jarak dari para penguasa, sultan menuntut mereka melayaninya; ia dipaksa ikut sebagai penjaga jubah dalam beberapa ekspedisi, dan sekali dipenjarakan. Chiragh-i Dehli menanggung kesukaran itu dengan kesabaran besar, lalu setelah wafatnya Muhammad bin Tughluq (752/1351) ia berperan besar dalam naiknya Sultan Firuz ke takhta Delhi. Sultan Firuz memperlakukannya dan kaum Chishti lainnya dengan penuh hormat serta mewakafkan harta yang besar bagi khanqah-nya. Pada 754 (1353), saat beribadah sendirian di bilik khalwatnya, ia ditikam oleh seorang Qalandar bernama Turab; ia selamat dari kematian dan, dengan kesabaran serta kepasrahan yang biasa, mencegah penghukuman si penyerang, bahkan memberinya sejumlah uang. Ia wafat pada 18 Ramadan 757 (14 September 1356) . Sesuai wasiatnya, jenazahnya dimandikan oleh muridnya Sayyid Muhammad Gisudaraz; juga sesuai wasiatnya, khirqah dan tasbih yang ia terima dari Nizamuddin Auliya dikuburkan bersamanya. Lingkaran Pengaruhnya — Sebagai syaikh yang menghimpun kaum Chishti Delhi di bawah satu atap, ia mewakili kesinambungan tarekat itu di India utara. Di antara muridnya terdapat Sayyid Muhammad Gisudaraz , yang dianggap pendiri Chishtiyah Dekkan; sumber mencatat bahwa penunjukannya sebagai khalifah tidak pasti. Murid lainnya, Hamid Qalandar, adalah penghimpun majelis-majelis syaikhnya. Kepenyairan dan Garis Tasawufnya — Ia seorang syaikh yang tidak mementingkan syair, bahkan berkeyakinan bahwa bersyair dapat merugikan seorang derwis; karena itu ia tidak meninggalkan karya. Dalam metode zikir ia sangat menekankan mengingat Allah pada setiap napas ( pas-i anfas ); karena memandang sama' bertentangan dengan sunnah, ia mewakili garis tersendiri dalam tradisi Chishti. Ucapan-ucapannya dalam majelis ( malfuzat ) dihimpun oleh muridnya Hamid Qalandar dalam kitab Khairul-majalis . Turbah dan Kompleksnya — Makamnya dibangun oleh Firuz Syah. Sumber mencatat bahwa makam itu kini dalam keadaan rusak dan penduduk kampung tempatnya berada umumnya beragama Hindu; kaum muslim menziarahi makamnya pada peringatan tahunan wafatnya.

DelhiWafat 757 HLihat
Ulama

Syah Waliyullah ad-Dihlawi

Ulama dan pembaru India; karena menjadikan hadis dasar seluruh ilmu, ia masyhur di India dengan julukan muhaddits . Nama lengkapnya Abu 'Abdul 'Aziz Quthbuddin Syah Waliyullah Ahmad bin 'Abdurrahim bin Wajihuddin ad-Dihlawi al-Faruqi . Ia lahir pada 14 Syawal 1114 (3 Maret 1703) di Muzaffarnagar yang termasuk Delhi. Silsilahnya dari pihak ayah sampai kepada Umar dan dari pihak ibu kepada Imam Musa al-Kazhim; ia berasal dari keluarga yang menetap di India menjelang akhir abad VII (XIII). Keterangan tentang hidupnya sebagian besar bersandar pada otobiografi dalam karyanya Anfas al-'Arifin . Kakeknya Wajihuddin dan ayahnya 'Abdurrahim termasuk ulama Delhi, dan keduanya duduk dalam tim penyusun al-Fatawa al-Hindiyyah ( al-'Alamgiriyyah ). Ibunya, Fakhrun Nisa' putri Syaikh Muhammad Phulati, juga menguasai ilmu-ilmu agama. Ia menghafal Al-Qur'an sejak kecil dan menerima pendidikan pertamanya dari ayahnya. Guru di India yang paling banyak memberinya manfaat adalah Syaikh Muhammad Afdhal as-Siyalkuti. Pada usia baru empat belas tahun ia menuntaskan suluknya dan berbaiat kepada ayahnya, seorang syaikh Naqsyabandi, serta menerima ijazah kekhalifahan darinya sebelum sang ayah wafat; pada masa mudanya ia dianugerahi khirqah dan diberi ijazah irsyad oleh ayahnya. Meski terikat pada Naqsyabandiyah, ia juga menaruh minat pada Qadiriyah, Chistiyah dan Suhrawardiyah; kemudian ia menerima pula ijazah kekhalifahan dari guru dan mursyidnya di Madinah, Abu Thahir al-Kurdi. Setelah ayahnya wafat (1131/1719) ia mulai mengajar di Madrasah Rahimiyah yang didirikan ayahnya; kegiatan yang berlangsung dua belas tahun ini membentuk lingkaran murid yang luas di sekitarnya. Pada usia empat belas tahun ia telah menikahi putri pamannya dari pihak ibu, 'Ubaidullah, yang melahirkan putranya Muhammad; setelah istrinya wafat ia menikahi putri Sayyid Tsana'ullah Panipati. Dari istri inilah lahir putra-putranya 'Abdul 'Aziz, Rafi'uddin, 'Abdul Qadir dan 'Abdul Ghani — yang melanjutkan kegiatan irsyad sepeninggalnya — serta putrinya Amatul 'Aziz. Pada 1143 (1731) ia berhaji dan tinggal sekitar empat belas bulan di Mekah dan Madinah, terutama menekuni hadis dan juga mengajar murid. Ia menyatakan bahwa di antara gurunya ia sangat terpengaruh oleh kehidupan ilmiah dan sufistik ulama Syafi'i Madinah, Abu Thahir Muhammad bin Ibrahim al-Kurdi . Sekembalinya ke India ia kembali mengajar di Rahimiyah dengan menitikberatkan hadis dan tafsir. Ketika gedung madrasah tidak lagi menampung muridnya yang terus bertambah, dengan dukungan Sultan Muhammad Syah disediakan gedung yang lebih luas; madrasah yang kemudian masyhur sebagai Darul 'Ulum Delhi itu berfungsi sebagai darul hadis. Ia juga sangat memperhatikan urusan politik: dalam surat-suratnya kepada penguasa Mughal, para pejabat dan pemukanya ia mendesak reformasi ekonomi, administrasi dan sosial serta penguatan negeri terhadap kemungkinan serangan. Ia menulis kepada penguasa Afghan Ahmad Syah Durrani, mengajaknya bergerak ke wilayah Delhi untuk membendung ekspansi kelompok-kelompok Hindu dan menjamin keamanan kaum muslim. Ahmad Syah, bersekutu dengan pemimpin Rohilla Najibuddaulah, memasuki India pada 1760 dan memenangi perangnya melawan orang Hindu tak lama sebelum Syah Waliyullah wafat. Ia wafat di Delhi pada 29 Muharam 1176 (20 Agustus 1762) dan dimakamkan di samping ayahnya di Pemakaman Munhediyan , Delhi Lama. Lingkaran Pengaruhnya — Semasa hidup ia telah berpengaruh di lingkungannya; sepeninggalnya, warga Madrasah Rahimiyah memegang pandangannya, dan kemasyhurannya menyebar mula-mula di kalangan muslim India lalu ke seluruh dunia Islam. Putra-putranya, terutama Syah 'Abdul 'Aziz , murid-murid seperti Murtadha az-Zabidi dan Tsana'ullah Panipati, serta pengikut seperti 'Ubaidullah as-Sindi turut menyebarkan gagasannya. Madrasah Rahimiyah hancur pada masa pendudukan Inggris tahun 1857; belakangan didirikan di Hyderabad sebuah Akademi Syah Waliyullah yang menerbitkan karya-karyanya. Berbagai kelompok yang berbeda lahir dengan bersandar pada pandangannya: mazhab Deoband yang dipelopori Muhammad Qasim Nanautawi, aliran Ahli Hadis yang didirikan cucunya Syah Isma'il Syahid dan dilanjutkan Sayyid Nadzir Husain, serta aliran Aligarh di bawah Sayyid Ahmad Khan; sebagian kaum Barelwi pun terpengaruh oleh corak sufinya. Menurut sumber, tak satu pun dari mereka mengikutinya secara utuh; masing-masing mengambil pandangannya yang sesuai. Pada awal abad XX ia berpengaruh nyata atas Syibli Nu'mani, Abul Kalam Azad dan Muhammad Iqbal; Iqbal menyebutnya teolog besar yang terakhir. Kepenyairan dan Garis Tasawufnya — Syair-syairnya dihimpun dalam sebuah Diwan oleh Ishaq bin Muhammad 'Irfan. Dalam garis tasawufnya ia berupaya memadukan wahdatul wujud Ibnu 'Arabi dengan wahdatusy syuhud Imam Rabbani; ia berpendapat tidak ada perbedaan serius antara kedua teori itu dan bahwa pandangan serupa diungkapkan dengan kata-kata berbeda, lalu menjelaskannya dengan perumpamaan lilin: bentuk-bentuk dari lilin tampak berbeda, tetapi asalnya tetap lilin. Ia menerima adanya alam rohani yang ia namai 'alam al-mitsal di antara alam syahadah dan alam gaib. Ia menentang orang yang menafsirkan tasawuf sebagai menarik diri dari kehidupan sosial dan menekankan pentingnya bekerja, mencari nafkah dan melayani masyarakat. Ia mengecam keras para sufi palsu: menurut sumber, ia menyatakan bahwa mengagungkan kuburan dan meminta pertolongan kepada orang mati tidak berbeda dengan melakukan dosa besar, memperingatkan orang terhadap syaikh yang tidak membantu mereka mempelajari agama dan terhadap klaim karamah mereka, sambil tetap membenarkan bimbingan rohani yang sejati. Dalam garis keilmuannya ia menerjemahkan Al-Qur'an ke bahasa Persia, bahasa pendidikan di India saat itu; meski karenanya dituduh bid'ah oleh ulama setempat, ia meneruskan karyanya. Ia berusaha memanfaatkan semua mazhab fikih Sunni, memandang hasil ijtihad para mujtahid yang berbeda sebagai setara, dan berpendapat bahwa berkat para ulama ijtihad tidak pernah terputus. Karya-karyanya — Ia menulis banyak karya dalam bahasa Arab dan Persia yang jumlah pastinya belum dapat ditetapkan. Yang terpenting: dalam tafsir , terjemahan Persia Al-Qur'an Fath ar-Rahman fi Tarjamat al-Qur'an (pertama dicetak semasa hidup penulisnya, 1156/1743), al-Fauz al-Kabir fi Ushul at-Tafsir dan Ta'wil al-Ahadits ; dalam hadis , syarah Persia atas al-Muwaththa' , al-Mushaffa , syarah Arabnya al-Musawwa , dan Syarh Tarajim Abwab Shahih al-Bukhari ; dalam akidah , Qurrat al-'Ainain fi Tafdhil asy-Syaikhain dan Izalat al-Khafa' 'an Khilafat al-Khulafa' ; dalam fikih , 'Iqd al-Jid fi Ahkam al-Ijtihad wat-Taqlid dan al-Inshaf fi Bayan Sabab al-Ikhtilaf ; dalam tasawuf dan filsafat Islam, Hujjatullah al-Balighah tentang hikmah hukum-hukum agama, al-Budur al-Bazighah , al-Qaul al-Jamil tentang adab suluk, at-Tafhimat al-Ilahiyyah , Althaf al-Quds , Lamahat , Satha'at dan Hama'at ; serta dalam biografi dan wasiat, Anfas al-'Arifin yang memuat otobiografinya dan wasiat Persianya yang terdiri atas delapan risalah, al-Maqalah al-Wadhiyyah .

DelhiWafat 1176 HLihat
Ulama

Mehmed Emin Tokadi

Seorang sufi yang dipandang sebagai wakil terpenting Naqsyabandiyah-Mujaddidiyah Istanbul pada abad kedelapan belas. Ia lahir pada tahun 1075 (1664) di Tokat. Ia berasal dari keluarga Naqsyabandi: ayahnya, Hasan Efendi, seorang penjahit dan murid Azîz Mahmûd-ı Urmevî. Setelah Urmevî dihukum mati pada tahun 1048 (1639), keluarga itu menetap di Tokat, tempat Mehmed Emin melewatkan masa mudanya, dan pada tahun 1110 (1698) ia pergi ke Istanbul. Di Istanbul ia masuk Madrasah Pîrî Paşa di Zeyrek dan mempelajari ilmu-ilmu agama kepada Syekhulislam Mirzazâde Şeyh Mehmed Efendi. Ia berlatih khat sulus, naskhi dan taklik kepada Hâşimîzâde Seyyid Abdullah Efendi; sesudah itu ia belajar musik di Edirne kepada para maestro seperti Buhûrîzâde Mustafa Itrî Efendi, Küçük Müezzin Mehmed Efendi dan Yahyâ Nazîm Çelebi. Pada Rajab 1114 (November 1702) ia bertemu di Mekah dengan Ahmed Yekdest-i Cüryânî yang sedang memimpin sebuah halakah zikir di dekat Kakbah; ia berbaiat kepadanya dan berkhidmat kepadanya kira-kira tiga tahun. Kemudian, di Madinah, ia menerima ijazah kekhalifahan dalam Naqsyabandiyah-Mujaddidiyah melalui Abdürrahîm-i Buhârî. Ia kembali ke Istanbul sekitar tahun 1117 (1706); ia menjadi sekretaris Kımıl Mehmed Bey dan mengajar di Masjid Şehzade. Setelah wafatnya sang pelindung, ia sempat memangku sebentar, pada tahun 1132 (1719-20), jabatan juru kunci turbah Eyüp Sultan. Selama berpuluh tahun ia menyibukkan diri dengan bimbingan rohani tanpa terikat pada tekke mana pun. Pada tahun 1156 (1743) ia diangkat oleh Syekhulislam Mustafa Efendi sebagai syekh tekke Emîr Buhârî di Ayvansaray; ia menerima jabatan itu dengan syarat tidak bermukim di tekke . Ia wafat pada 15 Syakban 1158 (12 September 1745) dan dimakamkan di pemakaman Masjid Pîrî Paşa (Soğukkuyu) di Zeyrek, Istanbul. Lingkaran Pengaruhnya — Saluran pengaruhnya yang paling kentara adalah muridnya, Müstakimzâde: melalui perantaraannya disiapkan landasan bagi penerjemahan Mektûbât karya Imâm-ı Rabbânî ke dalam bahasa Turki. Adapun hubungan yang dijalinnya dengan Lâ'lîzâde Abdülbâki dari lingkungan Bayrami-Melami menunjukkan sebuah konsepsi tasawuf yang mandiri dan tidak menutup diri pada satu lingkungan saja. Kepenyairan dan Garis Tasawufnya — Ia berada pada garis Naqsyabandi-Mujaddidi; ia menolak sikap pamer dalam praktik tekke. Yang menonjol padanya adalah bahwa ia membela devran , sebuah praktik yang diperselisihkan — hal ini bertentangan dengan pemahaman Naqsyabandi yang mapan dan menjadi pokok bahasan salah satu risalahnya. Karya-karyanya — Tulisannya pada dasarnya berupa risalah-risalah tentang jalan Naqsyabandi: İrşâdü's-sâlikîn , Risâle fî sülûki't-tarîkati'n-Nakşibendiyye , Sıyânet-i Dervîşân der Bahs-i Deverân-ı Sûfiyân (pembelaan atas devran), Şerh-i Kelimât-ı Hâcegân dan Vasiyyetnâme . Ia juga mengalihbahasakan ke dalam bahasa Turki karya-karya seperti mukadimah qiraat Ibnul Jazari dan Risâle-i Vâlidiyye karya Ubaidullah Ahrar. Turbah dan Kompleksnya — Makamnya berada di pemakaman Masjid Pîrî Paşa (Soğukkuyu) di Zeyrek. Inskripsi pada nisannya ditulis dengan khat taklik oleh Kâtibzâde Mehmed Refî dan memuat kronogram yang disusun oleh muridnya, Müstakimzâde.

İstanbulWafat 1158 HLihat
Ulama

Molla Gürani

Guru Sultan Mehmed al-Fatih, ulama dan mufti Utsmani (w. 893/1488). Nama aslinya Syamsuddin Ahmad bin Ismail ; sebagian sumber memakai gelar Syarafuddin atau Syihabuddin sebagai ganti Syamsuddin. Sumber-sumber memberikan keterangan berbeda tentang tempat dan tahun kelahirannya. Setelah menyelesaikan pendidikan awal di kampung halamannya, di Bagdad ia mempelajari qiraat tujuh, ilmu kalam, tafsir, nahwu dan fikih pada Zainuddin Abdurrahman bin Umar al-Qazwini, dan di Hasankeyf bahasa dan sastra Arab pada Jalaluddin al-Hulwani. Sekitar 830 (1426-27) ia pindah ke Damaskus dan belajar pada para ulama, di antaranya Alauddin Muhammad bin Muhammad al-Bukhari. Melalui Yerusalem ia pergi ke Kairo pada 835 (1431-32); di sana ia menjadi murid Ibnu Hajar al-Asqalani dan memperoleh ijazah darinya. Ia juga mempelajari hadis, qiraat, tafsir dan fikih dari ulama seperti Zainuddin az-Zarkasyi, al-Maqrizi, Kamaluddin Ibnul Barizi dan Ali bin Ahmad al-Qalqasyandi. Setelah menonjol dalam ilmu-ilmu ini ia masuk lingkaran dekat Sultan Mamluk al-Malik azh-Zhahir Jaqmaq, menghadiri majelis ilmu di hadapan sultan, dan menjadi pengajar fikih di Madrasah Barquqiyah di Kairo. Pada 844 (1440), ketika perdebatan antara dirinya dan kadi Hanafi Damaskus diadukan kepada sultan, ia dipenjara, dihukum, diberhentikan dari mengajar dan dibuang ke Damaskus. Sementara itu ia berkenalan dengan Molla Yegan , salah seorang ulama masa Murad II, dan datang bersamanya ke Anatolia. Bersama Molla Yegan ia pergi ke Edirne dan bertemu Murad II, lalu menjadi pengajar mula-mula di madrasah Kaplıca, kemudian di madrasah Yıldırım di Bursa. As-Sakhawi mencatat bahwa setelah datang ke Anatolia ia pindah dari mazhab Syafi'i ke mazhab Hanafi. Pada 847 (1443) ia diangkat menjadi guru Pangeran Mehmed (al-Fatih) di Manisa. Ketika muridnya naik takhta untuk kedua kalinya, ia ditawari jabatan wazir; ia menolak seraya berkata “Mereka yang mengabdi di pintumu pada akhirnya berharap mencapai kedudukan wazir. Jika orang lain selain mereka menjadi wazir, kesetiaan mereka kepadamu melemah dan tatanan kesultananmu terganggu.” Karena itu ia diangkat menjadi kadi tentara (kazasker) pada 855 (1451). Dalam penaklukan Istanbul ia duduk dalam majelis musyawarah al-Fatih, ikut dalam penaklukan bersama pasukan, dan termasuk kelompok yang menyemangati sultan pada hari-hari tersulit pertempuran sehingga pengepungan berlanjut. Setelah penaklukan ia menulis surat kemenangan (fethname) berbahasa Arab yang dikirim kepada sultan Mamluk. Karena bertindak dalam pengangkatan pejabat tanpa meminta pendapat sultan, ia ditugasi sebagai kadi Bursa dan pengelola wakaf-wakafnya; karena menolak suatu usulan dari orang dekat sultan yang ia anggap menyalahi syariat, ia dicopot dari jabatan kadi pada 859 (1455). Ia berangkat haji, singgah di Aleppo dan Damaskus, lalu ke Yerusalem (860/1456), dan menunaikan ibadah haji pada 861 (1457). Pada 862 (1458) ia kembali ke Istanbul dan untuk kedua kalinya diangkat menjadi kadi Bursa. Pada 885 (1480) ia diangkat menjadi mufti Istanbul , jabatan ilmiah tertinggi masa itu yang kemudian berubah menjadi Syaikhul Islam, dan memegangnya selama delapan tahun, sebagian besar pada masa Bayezid II. Menjelang akhir hayatnya ia jatuh sakit dan wafat di Istanbul. Ia digambarkan rendah hati namun berwibawa, dan tidak segan menyatakan pendiriannya secara terbuka. Karya-karyanya — Karyanya yang terpenting adalah tafsir Ghayatul amani fi tafsiril kalamir rabbani , yang dalam sebagian sumber juga disebut Ghayatul amani fi tafsiris sab'il matsani : ia mulai menulisnya di Yerusalem pada akhir 860 (1456) dan menyelesaikannya pada 867 (1462-63), lalu mempersembahkannya kepada al-Fatih. Di antara sumber utamanya adalah al-Kasysyaf karya az-Zamakhsyari dan Anwarut tanzil karya al-Baidhawi, dan penulis sesekali mengkritik pandangan dalam kedua tafsir itu. Disalin atas perintah sebagian sultan Utsmani dan dikirim sebagai hadiah ke Kekhanan Bukhara dan tempat lain, karya ini diajarkan sebagai buku pelajaran di madrasah-madrasah Utsmani. Karya-karya lainnya: ad-Durarul lawami' fi syarhi Jam'il jawami' , syarah kitab ushul fikih Tajuddin as-Subki; Kasyful asrar tentang qiraat, dipersembahkan kepada Bayezid II; al-Kautsarul jari , syarah al-Bukhari yang mengkritik sebagian tafsiran gurunya Ibnu Hajar dan al-Kirmani; al-Abqari , Fara'idud durar dan Raf'ul khitam tentang qiraat; al-Murasysyah tentang nahwu; dan Risalah fil wala' yang ditulis untuk mengkritik risalah Molla Hüsrev yang berjudul sama. Ia juga memiliki kasidah Arab 600 bait tentang ilmu arudh, asy-Syafiyah , yang dipersembahkan kepada al-Fatih. Turbah dan Kompleksnya — Di Istanbul ia membangun dua masjid jami, dua masjid kecil, sebuah madrasah darul hadis, serta darul qurra, khanqah, pemandian dan sekolah dasar, dan mewakafkan banyak properti produktif untuknya; akta wakaf yang ia susun bertanggal Rabiul Awal 889 (April 1484). Ia dimakamkan di pemakaman masjid yang ia bangun di kawasan Aksaray.

İstanbulWafat 893 HLihat
Keluarga Nabi

Maulay Idris II

Penguasa kedua dinasti Idrisiyah; ia dipandang sebagai pendiri kota Fez dan di sana disebut Maulay Idris . Nama lengkapnya Abul-Qâsim Idrîs b. Idrîs b. 'Abdillâh b. al-Hasan . Ia lahir setelah wafatnya sang ayah, pada 3 Rajab tahun 177 (14 Oktober 793); ibunya seorang selir dari kabilah Nafzah. Ibunya sedang mengandung ketika ayahnya wafat; pengasuhan anak itu diambil alih oleh Râsyid , pelayan ayahnya. Râsyid dibunuh oleh Aghlabiyah pada tahun 188 (804). Pada 1 Rabiulawal tahun 188 (17 Februari 804), ketika ia berusia sebelas tahun, baiat diambil untuknya dari orang-orang Berber untuk kedua kalinya. Ketika Walîla menjadi terlalu sempit ia menjadikan Fez sebagai ibu kota dan membangun kota itu: Jâmi'ul-Asyyâkh dibangun pada tahun 192 (808) dan Jâmi'usy-Syurafâ pada tahun 193 (809). Pada tahun 197 (813) ia menguasai wilayah Nafîs, Aghmât dan Mashmûdah ke arah Atlas, dan di timur Nafrah serta Tlemcen. Ia wafat pada 10 Jumadilakhir tahun 213 (26 Agustus 828), pada usia tiga puluh enam tahun. Lingkaran Pengaruhnya — Ia menata negara menurut corak negara Arab-Islam: 'Amr b. Mush'ab menjadi wazir, 'Âmir b. Muhammad kadi, dan Abul-Hasan b. 'Abdul-Malik sekretaris. Orang-orang Arab yang datang dari Kairouan dan Kordoba ditempatkan di kawasan 'Udwatul-Qarawiyyîn dan 'Udwatul-Andalus ; kedua tepi Fez terbentuk oleh perpindahan ini. Setelah wafatnya, kesembilan putranya membagi negeri itu menjadi sembilan keamiran. Turbah dan Kompleksnya — Turbahnya berada di Fez.

FesWafat 213 HLihat