AWali
Ahmed-i Hânî (Syekh Ahmed)
Hânî
Seorang penyair, sufi dan ulama; penulis Mem û Zîn , yang dipandang sebagai masnawi klasik bahasa Kurdi, dan seorang tokoh yang oleh masyarakat dianggap wali. Ia lahir pada tahun 1061 (1651). Nama ayahnya İlyas. Nisbatnya dikatakan berasal dari desa Han di dekat Hakkâri, dari suku Hânî, atau dari keluarga Hâniyan. Dengan berkeliling Anatolia timur ia mempelajari bahasa Arab, balagah dan ilmu-ilmu agama; ia juga menyibukkan diri dengan ilmu falak. Ia bermukim di Cizre, salah satu pusat kebudayaan kawasan itu pada masanya, dan di sana menggubah Mem û Zîn . Kemudian ia menetap di Bayazıt Lama (Doğubayazıt) dan tinggal di sana hingga akhir hayatnya. Tanggal wafatnya diterima sebagai tahun 1119 (1707), angka yang dihasilkan ungkapan "Târe Hânî ilâ rabbih" menurut perhitungan abjad. Lingkaran Pengaruhnya — Di antara murid yang dididiknya terhitung İsmâil Bâyezîdî (w. 1121/1709), Şerîf Han Cûlâmergî (w. 1161/1748) dan Murad Han Bâyezîdî (w. 1192/1778). Setelah wafatnya ia dipandang wali oleh masyarakat dan makamnya menjadi tempat ziarah; diriwayatkan bahwa Said Nursi menziarahi makamnya pada masa mudanya. Adapun Mem û Zîn meneruskan pengaruhnya lewat jalan kitab: ia diterjemahkan ke bahasa Rusia (Rudenko, 1962), ke bahasa Arab dalam bentuk prosa (al-Bûtî, 1957) dan ke bahasa Turki (Bozarslan, 1968 dan 1975), serta diangkat ke layar lebar di Turki pada tahun 1991. Kepenyairan dan Garis Tasawufnya — Dalam syairnya persoalan kalam, wujud, akhlak dan masyarakat saling berjalin. Sebagai seorang mutakallim pada garis Sunni-Asy'ari ia menggarap rahasia penciptaan dan persoalan taklif ilahi; ia berpendapat bahwa pertentangan dalam alam melahirkan pemahaman dan keselarasan, dan bahwa yang tampak buruk boleh jadi pada hakikatnya baik. Ia menyuarakan kesulitan zamannya dan menunjuk solidaritas sosial serta pendidikan sebagai jalan keluarnya; ia mengeluhkan digantikannya hikmah oleh paham kebendaan. Pada sisi tasawufnya ia mengatakan bahwa yang benar-benar mengubah watak manusia hanyalah cinta ilahi dan takwa. Ia berada di bawah pengaruh penyair-penyair sufi seperti Mevlânâ dan Câmî; sumber menyatakan bahwa dakwaan tentang adanya pengaruh pra-Islam padanya tidak berdasar. Karya-karyanya — 1. Mem û Zîn (1104/1693). Sebuah masnawi percintaan bergaya Leylâ dan Mecnûn, terdiri atas enam puluh bagian dan sekitar 3000 bait. Pokok ceritanya: Mem, seorang juru tulis diwan, mencintai Zîn, saudari sang emir; pelayan bernama Bekir menghalangi persatuan keduanya; kedua kekasih itu mati karena rindu, dan kawan-kawan mereka membalas dendam dengan membunuh Bekir. Makam keduanya di Cizre diziarahi. Cetakan pertamanya terbit di Istanbul (1335) dan yang kedua di Aleppo (1947). 2. Nûbahârâ Bıçûkân (1094/1683). Sebuah kamus bersyair Arab-Kurdi yang digubah dalam tiga belas wazan berbeda; disusun untuk memudahkan pelajaran tata bahasa bagi anak-anak yang belajar Al-Qur'an. Kitab ini dicetak bersama karya al-Hâlidî (Istanbul 1310), diterbitkan kembali oleh al-Jazarî di Damaskus, dan dialihaksarakan ke huruf Latin oleh Zinar (Istanbul 1992). 3. Akîdâ Îmân. Sebuah matan akidah bersyair delapan puluh bait yang memaparkan pokok-pokok Islam dari sudut pandang Sunni; membahas tauhid, kenabian, sifat-sifat ilahi, syafaat dan akhirat, memasuki persoalan af'âl al-'ibâd , serta memanfaatkan pandangan Asy'ariyah dan Maturidiyah secara selektif. 4. Çârkûşe. Rubai-rubai yang pada setiap baitnya berhimpun bahasa Arab, Persia, Turki dan Kurdi; lima di antaranya, tentang cinta, perpisahan dan perjumpaan, sampai kepada kita. Ahmed Hilmî menulis syarah atas Nûbahârâ Bıçûkân dan Akîdâ Îmân. Turbah dan Kompleksnya — Makamnya terletak di Doğubayazıt dekat Istana İshak Paşa dan hingga kini menjadi tempat ziarah.