Beliau adalah pĂŽr (pendiri) tarekat Celvetiyye, salah satu sufi Utsmani dengan lingkaran pengaruh terluas, dan salah satu nama besar puisi tekke. Nama aslinya MahmĂťd, putra Fazlullah b. MahmĂťd; nama pena "HĂźdâyĂŽ" diberikan oleh gurunya Ăftâde, sedangkan gelar "AzĂŽz" di depan namanya lahir dari penghormatan masyarakat kepadanya.
Beliau lahir pada 948/1541 di Ĺereflikoçhisar. Setelah pendidikan awal, beliau pergi ke Istanbul dan masuk Madrasah Kßçßk Ayasofya; setelah menamatkannya beliau menjadi muĂŽd (asisten) gurunya, NâzÄąrzâde Ramazan Efendi. Sambil mempelajari tafsir, hadis dan fikih, beliau juga menghadiri majelis NĂťreddinzâde Muslihuddin Efendi, syekh HalvetĂŽ dari Masjid Kßçßk Ayasofya â jadi hubungannya dengan tasawuf sudah dimulai pada tahun-tahun madrasah. Ketika gurunya diangkat menjadi guru besar di Madrasah Selimiye Edirne, lalu kadi di Mesir dan Syam, beliau tetap dibawa menyertainya. Saat berada di Mesir, beliau menerima pendidikan "usĂťl-i esmâ" dari KerĂŽmĂźddin el-HalvetĂŽ dari cabang DemirtaĹiyye tarekat Halvetiyye.
Sekembalinya dari Mesir pada 1573, beliau diangkat sebagai guru besar di Madrasah Ferhâdiye Bursa dan naib pada Mahkamah Câmi-i AtĂŽk. Pada tahun ketiga setelah kedatangannya di Bursa, gurunya wafat. Dalamnya pengaruh kehilangan itu membuatnya meninggalkan jabatan-jabatan resminya dan berbaiat kepada Muhyiddin Ăftâde, yang majelis dan khotbahnya telah lama beliau hadiri (984/1576). Ăftâde memintanya melepaskan lebih dulu harta dan miliknya, kemudian jabatannya; dan untuk mengalahkan kesombongannya, memintanya menjual hati (jeroan) dengan pikulan di jalan-jalan Bursa dengan tetap memakai pakaian kadi. HĂźdâyĂŽ tidak ragu pada satu pun di antaranya.
Dengan riyadah yang ketat beliau menyempurnakan seyr Ăź sĂźlĂťk-nya dalam waktu singkat, sekitar tiga tahun. Ăftâde mengangkatnya sebagai khalifah untuk Sivrihisar; namun beliau hanya bertahan sekitar enam bulan di sana dan kembali ke Bursa untuk menemui gurunya. Setelah Ăftâde wafat, beliau menyeberang ke Rumelia; sesudah beberapa waktu di Trakya dan Balkan, beliau datang ke Istanbul. Melalui perantaraan Syekhulislam Hoca Sâdeddin Efendi, beliau delapan tahun menjadi syekh di Tekke Kßçßk Ayasofya; pada tahun-tahun yang sama beliau berkhotbah di Masjid Fâtih serta mengajarkan tafsir dan hadis.
Pada 1589 beliau membeli tanah di ĂskĂźdar, tempat Tekke HĂźdâyĂŽ berdiri sekarang; beliau memindahkan tempat tinggalnya ke dekat Masjid Rum Mehmed PaĹa agar dapat mengawasi pembangunan dari dekat. Tekke selesai pada 1595 dan sekaligus digunakan sebagai tevhidhâne; pada 1007/1598-99 pendirinya sendiri mengubahnya menjadi masjid dengan menambahkan mimbar. Pada 1599 beliau melepaskan tugas khotbah di Masjid Fâtih dan mulai berkhotbah setiap Kamis di Masjid Mihrimah Sultan (İskele) ĂskĂźdar. Pada pembukaan Masjid Sultan Ahmed (1616) beliaulah yang membaca khotbah pertama, dan beliau bersedia berkhotbah di sana setiap hari Senin pertama tiap bulan; TEİS mencatat bahwa beliau juga menghadiri upacara peletakan batu pertama (1018/1609) bersama Sultan Ahmed I dan syekhulislam. Pada tahun-tahun ĂskĂźdar beliau membangun sebuah çilehâne (tempat berkhalwat) dan sebuah pemandian di Bulgurlu; desa Bulgurlu tempat çilehâne itu, ladang-ladang IlÄąsuluk dan sebagian bukit Gaziler didaftarkan atas namanya dengan firman Sultan Ahmed I.
Beliau wafat pada Safar 1038 (Oktober 1628) di ĂskĂźdar. Beliau memiliki sebelas anak, enam di antaranya perempuan; keturunannya berlanjut melalui putri-putrinya ĂmmĂźgĂźlsĂźm (w. 1641), Zeyneb (w. 1642) dan Fatma Zehrâ (w. 1675). Syair-syair penanggalan yang ditulis untuk kematiannya begitu banyak sehingga dapat membentuk sebuah divan kecil.
Lingkaran Pengaruh
Pengaruh HĂźdâyĂŽ terentang dari rakyat hingga istana. Beliau menulis surat nasihat kepada sultan-sultan seperti Murad III, Ahmed I dan Osman II; beliau menyandangkan pedang kesultanan kepada Murad IV; beliau menyertai Ferhad PaĹa dalam Ekspedisi Tabriz. Evliya Ăelebi menuturkan bahwa tujuh sultan mencium tangannya dan bahwa beliau memberikan baiat (irâdet) kepada 170.000 murid. Tekkenya dipenuhi orang dari segala golongan: Wazir Agung Halil PaĹa dari Kayseri, Dilâver PaĹa, Hoca Sâdeddin Efendi, Sun'ullah Efendi, Syekhulislam Hocazâde Esad Efendi, Okçuzâde Mehmed ĹâhĂŽ Efendi, SarÄą Abdullah Efendi, Nev'ĂŽzâde AtâÎ dan Olanlar Ĺeyhi İbrâhim Efendi termasuk di antara pengikut atau pengunjung tetapnya. Diriwayatkan bahwa saat wafat beliau memiliki hampir enam puluh khalifah. Melalui beliau dan para khalifahnya, Celvetiyye meninggalkan jejak dalam kehidupan keagamaan dan tasawuf di Anatolia dan Balkan; tekkenya menjadi salah satu pusat tasawuf dan kebudayaan terpenting di Istanbul, melahirkan banyak ulama, syekh dan ahli musik. Penulis paling terkenal dari tradisi tekke ini adalah İsmâil HakkÄą dari Bursa, penulis RĂťhu'l-beyân; ia sering menukil dari HĂźdâyĂŽ dan, membandingkannya dengan MahmĂťd dari Ghazna, berkata: "Dua MahmĂťd datang ke dunia ini / satu MahmĂťd Ghazna yang terkenal / satu lagi MahmĂťd makna batin." Bahwa kitab-kitab sejarah dan bibliografi pada masanya maupun sesudahnya menyebutnya dengan gelar seperti "kutbĂź'l-aktâb", "sâhib-i zamân" dan "mĂźrĹid-i kâmil" menunjukkan ketenarannya bertahan setelah wafatnya.
Kepenyairan dan Garis Tasawufnya
Termasuk dalam sastra tasawuf rakyat, HĂźdâyĂŽ menulis puisi tekke yang sederhana dan penuh hikmah; puisinya, sebagian besar dalam bentuk ilahi, cukup banyak untuk membentuk sebuah divan. Beliau kadang memakai wazan suku kata (hece), kadang aruz. Beliau berpegang pada paham kesatuan wujud (vahdet-i vĂźcĂťd) yang disistematiskan Ibn al-'ArabĂŽ, dan hal ini tampak jelas dalam karya, puisi dan surat-suratnya â penulis entri TDV mencatat sulit dikatakan bahwa beliau mengolah paham itu sedalam YĂťnus Emre, namun beliau menyairÂkan ruh tasawuf yang luas dengan ungkapan yang tulus. Sebagian ilahinya digubah sendiri oleh beliau, sebagian oleh pencinta dan pengikutnya; gubahan-gubahan itu dilantunkan di tekke selama berabad-abad dan menjadi bagian tak terpisahkan dari majelis zikir. Banyak penyair sufi menulis nazire atas ilahi-ilahinya yang bergaya YĂťnus. Bait-baitnya tentang kesetiaan kepada gurunya merangkum garis ini: "Bulbul taman cinta adalah Hazret-i Ăftâde / tabib para pencinta yang berduka adalah Hazret-i Ăftâde." Celvetiyye yang beliau dirikan terbagi menjadi empat cabang â Selâmiyye, HakkÄąyye, Fenâiyye dan HâĹimiyye; pada tahun-tahun menjelang penutupan tekke, terdapat sekitar tiga puluh tekke cabang-cabang ini di Istanbul.
Karya-karyanya
Beliau meninggalkan sekitar tiga puluh karya dalam bahasa Arab dan Turki; sesuai pemahaman zamannya, sebagian besar ditulis dalam bahasa Arab.
Karya Arab utamanya:
- NefâisĂź'l-mecâlis â tafsir sufistik atas ayat-ayat pilihan; naskah terbaik dan tertua di Perpustakaan SĂźleymaniye, Ĺehid Ali PaĹa 172-174
- Câmiu'l-fezâil ve kâmiu'r-rezâil â keutamaan ilmiah, amaliah dan akhlak; naskah tertua Perpustakaan KĂśprĂźlĂź 1853/3; diterjemahkan ke bahasa Turki oleh H. Kâmil YÄąlmaz dengan judul "İlim Amel ve Seyr Ăź SĂźlĂťk", Istanbul 1988
- Miftâhu's-salât ve mirkÄtĂź'n-necât â keutamaan dan hikmah salat, juga memuat pandangan Ibn al-'ArabĂŽ dan SuhrawardĂŽ; naskah tertua 1010/1601, Perpustakaan Murad Molla 1314/4
- HulâsatĂź'l-ahbâr fĂŽ ahvâli'n-nebiyyi'l-muhtâr â penciptaan, wujud dan hakikat Muhammadiyah; naskah tertua 1037/1627, Perpustakaan HacÄą Selim AÄa, HĂźdâÎ Efendi 258
- HabbetĂź'l-mahabbe â cinta kepada Allah, Nabi dan Ahlulbait; diterjemahkan Ahmed Remzi AkyĂźrek sebagai "MahbĂťbĂź'l-ahibbe", diterbitkan dengan huruf baru oleh Rasim Deniz, Kayseri 1982
- KeĹfĂź'l-kÄąnâ' an vechi's-semâ' â pembelaan atas kebolehan semâ; naskah 1016/1607 di Perpustakaan KĂśprĂźlĂź 1583/7; terjemahan YÄąlmaz dalam MĂİFD no. 4 [1986], hlm. 273-284
Selain itu beliau menulis HayâtĂź'l-ervâh ve necâtĂź'l-eĹbâh, el-Fethu'l-ilâhĂŽ, Tecelliyât, et-TarĂŽkatĂź'l-Muhammediyye, Fethu'l-bâb ve ref'u'l-hicâb dan el-MecâlisĂź'l-va'zÄąyye. VâkĹât, yang tersusun dari catatannya di majelis gurunya Ăftâde, umumnya juga dinisbatkan kepadanya.
Karya Turki utamanya:
- Divan â DĂŽvân-Äą İlâhiyyât; sekitar 255 ilahi beserta rubai dan kita â diterbitkan secara terpisah oleh Kemaleddin Ĺenocak dan Ziver Tezeren, Istanbul 1970 dan 1986
- NecâtĂź'l-garĂŽk fi'l-cem' ve't-tefrĂŽk â istilah cem' dan fark dalam bentuk syair
- TarĂŽkatnâme â adab tarekat Celvetiyye
- MektĂťbât â 152 surat Turki, sebagian besar kepada Murad III, dan sekitar dua puluh dua surat Arab; Perpustakaan SĂźleymaniye, Fâtih 2572
- Nesâih ve Mevâiz â 237 lembar dalam empat puluh tiga bab; satu-satunya naskah yang diketahui di Perpustakaan HacÄą Selim AÄa, HĂźdâÎ Efendi 266
- Mi'râciyye â HĂźdâÎ Efendi 262
Tiga karya Turki pertama dicetak dengan judul "KĂźlliyyât-Äą Hazret-i HĂźdâyĂŽ" (Istanbul 1287), dan Mehmed GĂźlĹen Efendi (w. 1925), salah satu syekh terakhir Ăsitâne HĂźdâyĂŽ, menerbitkan kembali kumpulan yang sama dengan biografi lebih luas serta tambahan et-TarĂŽkatĂź'l-Muhammediyye (Istanbul 1338). Banyaknya naskah karyanya di perpustakaan-perpustakaan Istanbul, serta syarah dan hasyiyah yang ditulis atas banyak di antaranya oleh kalangan CelvetĂŽ maupun tarekat lain, menunjukkan betapa karyanya diterima luas.
Makam dan Kompleksnya
Kompleks yang didirikan antara 997-1003 (1589-1595) di DoÄancÄąlar, ĂskĂźdar, di kampung Ahmet Ăelebi, menjadi âsitâne dan "rumah pĂŽr" tarekat Celvetiyye; sumber-sumber Utsmani menyebutnya antara lain "Hazret-i HĂźdâyĂŽ Ăsitânesi" dan "PĂŽĹvâ-yÄą TarĂŽkat-Äą Aliyye-i Celvetiyye". Dalam kebakaran 1266/1850 semua bangunan kecuali makam musnah, dan kompleks dibangun kembali oleh Sultan AbdĂźlmecid pada 1272/1855-56. Di tengah ruang utama makam yang berdenah persegi panjang menjulang kubah kayu yang bertumpu pada empat pilar marmer, terbagi di bagian dalam menjadi tiga belas juring seperti puncak tâc (mahkota) CelvetĂŽ; di bawahnya terdapat sanduka (peti kayu) pĂŽr yang dikelilingi kisi-kisi besi bersepuh emas, dan di sekitarnya berjajar sepuluh sanduka anak-anaknya dan seorang cucunya. Di atas pintu ruang utama terdapat inskripsi Arab berhuruf ta'lik yang memuat tanggal wafatnya (1038/1628), dan di bagian atas dinding melingkar pias kaligrafi sulus berisi Surah al-Mulk dari tangan kaligrafer Mahmud Celâleddin. Sejak wafatnya hingga 1925, makam ini diziarahi bersama-sama oleh warga Celvetiyye pada malam-malam menjelang hari raya, dipimpin syekh âsitâne; hingga kini ia tetap termasuk makam wali yang paling banyak diminati di Istanbul. Doanya bagi para pengikut, pencinta dan penziarah makamnya â "semoga mereka tidak tenggelam di laut, tidak mengalami kefakiran di akhir usianya, dan tidak pergi sebelum imannya terselamatkan" â menempatkan makamnya di antara yang paling banyak diziarahi di Istanbul setelah EyĂźp Sultan, SĂźnbĂźl Efendi dan Yahyâ Efendi.
Nasihat dan Pengajarannya
Nasihat HßdâyÎ tidak bersandar pada ucapan lepas yang dinisbatkan kepadanya, melainkan pada karya yang beliau TULIS dan ilahi yang beliau lantunkan. Bagian ini menyajikan pokok bahasan karya-karya itu serta contoh-contoh syair yang ada pada kita dengan menyebut sumbernya; atlas tidak mencatat satu kalimat pun sebagai "HßdâyÎ berkata" jika itu bukan miliknya.
Tiga Kesatuan: Ilmu, Amal, Akhlak
Judul karyanya yang paling banyak dibaca, Câmiu'l-fezâil ve kâmiu'r-rezâil, sudah menyatakan programnya: menghimpun keutamaan, meruntuhkan kehinaan. Kitab itu terdiri dari tiga bab yang membahas berturut-turut keutamaan ilmiah, amaliah dan akhlak. H. Kâmil YĹlmaz menerjemahkannya ke bahasa Turki dengan judul "İlim Amel ve Seyr ß SßlÝk" (Istanbul 1988). Dalam pemahaman tarbiah HßdâyÎ, ilmu saja tidak dipandang cukup; jika tidak disempurnakan dengan amal dan akhlak, ia belum terhitung keutamaan (TDV DİA; TEİS)
Hikmah Salat
Miftâhu's-salât ve mirkÄtĂź'n-necât ("kunci salat dan tangga keselamatan") adalah risalah tentang keutamaan dan hikmah salat; di dalamnya HĂźdâyĂŽ juga memuat pandangan sufi besar seperti Muhyiddin Ibn al-'ArabĂŽ dan Syihabuddin as-SuhrawardĂŽ. Naskah tertuanya bertanggal 1010/1601 (TDV DİA)
Pelajaran Mahabbah
Habbetß'l-mahabbe ("biji cinta") adalah risalah kecil tentang cinta kepada Allah, kepada Nabi dan kepada Ahlulbait. Ahmed Remzi Akyßrek menerjemahkannya sebagai "MahbÝbß'l-ahibbe", dan Rasim Deniz menerbitkannya dengan huruf baru (Kayseri 1982) (TDV DİA)
Pembelaan Atas Semâ
KeĹfĂź'l-kÄąnâ' an vechi's-semâ' ("penyingkapan tabir dari wajah semâ") ditulis untuk membela kebolehan semâ. Naskah 1016/1607-nya berada di Perpustakaan KĂśprĂźlĂź; H. Kâmil YÄąlmaz menerbitkan terjemahannya dengan judul "Risalah Semâ AzĂŽz MahmĂťd HĂźdâyĂŽ" (MĂİFD no. 4 [1986], hlm. 273-284). Risalah ini memperlihatkan caranya membela praktik tasawuf dengan dalil ilmiah (TDV DİA)
Adab Tarekat dan Istilah Suluk
Di antara risalah Turkinya, TarĂŽkatnâme menjelaskan adab tarekat Celvetiyye, sedangkan NecâtĂź'l-garĂŽk fi'l-cem' ve't-tefrĂŽk menerangkan istilah tasawuf "cem'" dan "fark" dalam bentuk syair (TDV DİA). Adapun VâkĹât tersusun dari catatan yang beliau buat di majelis gurunya Ăftâde â yakni buku catatan pembelajarannya sendiri â dan memuat percakapan akhlak dan tasawuf antara beliau dan gurunya selama tiga tahun (TDV DİA; TEİS)
Khotbah dan Nasihat
Nesâih ve Mevâiz memuat khotbah dan nasihatnya; terdiri dari 237 lembar dalam empat puluh tiga bab, dan satu-satunya naskah yang diketahui berada di Perpustakaan HacÄą Selim AÄa (HĂźdâÎ Efendi no. 266). Sementara MektĂťbât terdiri dari 152 surat Turki, sebagian besar kepada Murad III, dan sekitar dua puluh dua surat Arab (Perpustakaan SĂźleymaniye, Fâtih no. 2572); TEİS mencatat bahwa surat-surat itu juga menyampaikan PANDANGAN RAKYAT perihal pengelolaan negara â artinya beliau menasihati istana dengan membawa keadaan rakyat ke hadapannya (TDV DİA; TEİS)
Prinsip Kerendahan Hati
Jawabannya ketika Sultan Ahmed I meminta diterima sebagai murid dinukil sebagai ringkasan pemahamannya tentang tarekat: "Dalam tarekat kami tidak ada perbedaan pangkat dan jabatan." Menurut riwayat, setelah itu sultan menghadiri majelisnya bersama murid-murid lain, tak berbeda dari darwis biasa (TEİS)
Tarbiah Nafsu
Permintaan gurunya Ăftâde agar beliau meninggalkan harta dan milik, lalu jabatan, serta menjual hati dengan pikulan di jalan-jalan Bursa dengan pakaian kadi untuk mengalahkan kesombongannya, adalah contoh paling dikenal yang menunjukkan bahwa dalam pemahaman suluk HĂźdâyĂŽ tarbiah nafsu mendahului ilmu dan kedudukan (TEİS)
Nasihatnya Dalam Bait-baitnya Sendiri
Bait-bait berikut diambil dari edisi terbitan DÎvân-Ĺ İlâhiyyât, dengan sumber disebutkan.
â Hanya menuju Allah:
Apa yang kuperbuat dengan dunia
yang kubutuh hanyalah Tuhanku
tak kuperlukan selain-Nya
yang kubutuh hanyalah TuhankuTak kuinginkan kuasa yang fana
tak pula aneka perhiasan
tak pula surga tanpa Yang Hak
yang kubutuh hanyalah TuhankuTinggalkan hawa yang sia-sia
temukanlah Yang Hak, yâ HÝ
inilah ucapan HßdâyÎ
yang kubutuh hanyalah Tuhanku.
TatcÄą, Mustafa â YÄąldÄąz, Musa [ed.], AzĂŽz MahmĂťd HĂźdâyĂŽ, Divân-Äą İlâhĂŽyât, Istanbul: Pemerintah Kota ĂskĂźdar, 2005, hlm. 97-99; dari bagian "Contoh dari karyanya" TEİS.
⥠Istigfar dan adab seorang hamba:
Jika aku keluar dari jalan yang benar
tuanku, sultanku, aku memohon ampun Allah
segala yang kulakukan berlawanan dengan ridamu
tuanku, sultanku, aku memohon ampun AllahKerja seorang hamba: salah, lalai, lupa
dari Tuan: ampunan, rahmat, maghfirah
dan dari-Mu jua obat setiap derita
tuanku, sultanku, aku memohon ampun Allah.
Edisi yang sama, hlm. 487.
⢠Memandang alam dengan mata ibrah:
Apa sebab bunga-bunga yang membuka di waktu sahur
apa sebab bulbul-bulbul yang bernyanyi rinduMereka yang memandang kuasa Sang Pemelihara
yang melihat karya Yang Hak dengan nyata
pandanglah musim bunga dengan mata ibrah
apa sebab air yang mengalir dan angin yang bertiupSemuanya adalah karya Yang Mahakuasa
dan yang memahami rahasia ini dialah sang arif.
Edisi yang sama, hlm. 127-129.
⣠Cinta Nabi dan permohonan syafaat:
Kedatanganmu adalah rahmat, nikmat dan kesejahteraan, ya Rasulallah
kemunculanmu adalah obat bagi derita para pencinta, ya RasulallahBerilah syafaat bagi HßdâyÎ, lahir maupun batin
ia seorang fakir yang berpegang pada pintumu, ya Rasulallah.
Edisi yang sama, hlm. 73-75.
⤠Kesetiaan kepada mursyid:
Jika engkau menghendaki mursyid yang tinggi, peganglah ujung jubahnya yang suci
yang menunjukkan jalan hidayah adalah Hazret-i Ăftâde
jadilah hamba dengan kesungguhan selalu di ambang HßdâyÎ
ketahuilah sesungguhnya kutub segala kutub adalah Hazret-i Ăftâde.
Ertan, Mehmed Emin, Aziz Mahmud HĂźdâyĂŽ, Istanbul: Ĺule YayÄąnlarÄą, 2001, hlm. 70; dari TEİS.
Gayanya
Penulis entri TDV mencatat bahwa HßdâyÎ menulis puisi tekke yang sederhana dan penuh hikmah, kadang memakai wazan suku kata kadang aruz, dan bahwa beliau berpegang pada paham kesatuan wujud yang disistematiskan Ibn al-'ArabÎ; penulis yang sama mencatat sulit dikatakan bahwa beliau mengolah paham itu sedalam YÝnus Emre, namun beliau menyairkan ruh tasawuf yang luas dengan ungkapan yang tulus. Sebagian ilahinya digubah sendiri oleh beliau dan sebagian oleh pencinta serta pengikutnya; gubahan itu dilantunkan di tekke selama berabad-abad dan menjadi bagian tak terpisahkan dari majelis zikir (TDV DİA)
Karamah
Riwayat-riwayat di bawah ini adalah nukilan (rivâyet) sebagaimana termuat dalam sumber-sumber; atlas mencatatnya bukan sebagai "demikianlah yang terjadi", melainkan sebagai "demikianlah yang dituturkan sumber". Karya asal setiap riwayat disebutkan dalam tanda kurung.
Dua Riwayat Sebab Baiatnya
Menurut riwayat pertama, HĂźdâyĂŽ melihat dalam mimpi beberapa orang yang ia sangka tempatnya surga â di antaranya gurunya sendiri, NâzÄąrzâde Efendi â sedang terbakar dalam api neraka. Beliau terguncang dalam-dalam, menganggapnya isyarat yang diperlihatkan kepadanya di alam makna, dan pada hari berikutnya meninggalkan harta, milik dan jabatannya untuk menjadi darwis Ăftâde (TEİS)
Riwayat kedua bersandar pada satu perkara talak yang diajukan kepadanya saat menjadi kadi di Bursa. Seorang warga Bursa yang setiap tahun berniat berhaji namun tak pernah pergi, dikatakan oleh istrinya: "Jangan berniat sia-sia"; ia menjawab: "Insya Allah aku akan pergi; jika tidak, kutalak engkau dengan talak tiga." Lelaki itu terlihat di rumahnya hingga hari Arafah, hilang pada hari itu, lalu mengetuk pintu pada hari kelima Idul Adha; istrinya, mengingat ucapannya, tidak membuka pintu, dan perkara dibawa ke kadi. Lelaki itu meminta agar ditunggu kembalinya kafilah haji dan diambil kesaksian mereka. Ketika kafilah pulang, para saksi menyatakan bahwa mereka bersamanya dalam haji dan menyebutkan tempat-tempat mereka duduk dan menginap. Kadi HĂźdâyĂŽ memutuskan bahwa talak tidak jatuh, lalu meminta lelaki itu menjelaskan bagaimana hal itu terjadi; ia berkata bahwa hal itu terlaksana melalui perantaraan Mehmed Dede si tukang sol, dengan cara "tayy-Äą mekân" (melipat ruang). Riwayat yang lebih tersebar melanjutkan bahwa HĂźdâyĂŽ kemudian pergi ke kedai Mehmed Dede hendak berbaiat kepadanya, dan Mehmed Dede mengarahkannya kepada Ăftâde dengan berkata: "Nasibmu bukan dari kami, melainkan dari Hazret-i Ăftâde" (TEİS; nukilan dirujuk kepada Tezeren 1987, hlm. 9-10 dan YÄąlmaz 1990, hlm. 46-47)
Ujian Hati (Jeroan)
Sebelum menerimanya, Ăftâde meminta beliau melepaskan lebih dulu harta dan miliknya, lalu jabatannya; dan agar meletakkan nafsunya di bawah kaki serta mengalahkan kesombongannya, memintanya menjual hati dengan pikulan di jalan-jalan Bursa dengan pakaian kadi. HĂźdâyĂŽ menerimanya tanpa ragu dan dengan cara itu masuk ke lingkaran irsyad (TEİS). Sumber menuturkan hal ini bukan sebagai karamah, melainkan sebagai tarbiah nafsu yang mendahului karamah.
Mimpi Sultan Ahmed I
Sultan Ahmed I datang kepada HßdâyÎ untuk menakwilkan sebuah mimpi; beliau demikian senang dengan takwilnya sehingga menganggapnya karamah, mencium tangannya dan meminta diterima sebagai murid. HßdâyÎ menjawab, "Dalam tarekat kami tidak ada perbedaan pangkat dan jabatan," dan menyampaikan bahwa permintaan itu diterima. Sejak itu Ahmed I menghadiri majelisnya bersama murid-murid lain, tak berbeda dari darwis biasa. Diriwayatkan bahwa sultan menuangkan air dari kendi untuk wudu syekhnya, sementara Vâlide Sultan memegang handuk (TEİS; nukilan dirujuk kepada Kßçßk 1976, hlm. 186)
"Biarlah Para Sultan Berjalan di Belakangnya"
Diriwayatkan bahwa ucapan Ăftâde kepada HĂźdâyĂŽ sebelum wafatnya ini terwujud ketika Ahmed I, karena hormatnya, mendudukkan beliau di atas kudanya di pasar ĂskĂźdar dan berjalan di belakangnya beberapa saat seperti seorang sais (TEİS; nukilan dirujuk kepada Tezeren 1987, hlm. 15)
Doanya Bagi Para Penziarah
Tercatat bahwa beliau berdoa bagi para pengikut, pencinta dan penziarah makamnya: "semoga mereka tidak tenggelam di laut, tidak mengalami kefakiran di akhir usianya, dan tidak pergi sebelum imannya terselamatkan". Penulis entri TDV menghubungkan langsung dengan doa ini kenyataan bahwa makamnya menjadi salah satu yang paling banyak diziarahi di Istanbul â setelah EyĂźp Sultan, SĂźnbĂźl Efendi dan Yahyâ Efendi (TDV DİA)
Mereka yang Berlindung di Tekkenya
Diketahui bahwa pada masa hidupnya banyak pejabat negara yang merasa nyawanya terancam menyelamatkan diri dengan berlindung di tekkenya; setelah wafatnya, berkat wakaf yang sangat kaya yang beliau tinggalkan, tekke, dapur umum dan kompleksnya menjadi tempat berlindung dan bernaung bagi masyarakat (TDV DİA)
Nukilan EvliĚya ĂelebiĚ
Seyahatnâme menyebutkan bahwa tujuh sultan mencium tangan HßdâyÎ dan bahwa beliau memberikan baiat (irâdet) kepada 170.000 murid (dinukil baik oleh TDV maupun TEİS). Angka itu dinukil sebagai catatan seorang pengembara; atlas membawanya bukan sebagai sensus historis, melainkan sebagai kesaksian sezaman atas pengaruhnya.
Setelah Wafatnya
Bahwa kitab-kitab sejarah dan bibliografi pada masanya dan sesudahnya menyebutnya dengan gelar seperti "kutbĂź'l-aktâb", "sâhib-i zamân" dan "mĂźrĹid-i kâmil", serta manakib dan karamah yang berpindah dari mulut ke mulut, membuat penziarahnya bertambah pada setiap masa. Bahwa kompleks â yang seluruh bangunannya kecuali makam terbakar dalam kebakaran 1266/1850 â dibangun kembali oleh Sultan AbdĂźlmecid menunjukkan bahwa ikatan cinta ini berlanjut pula di lingkungan istana (TDV DİA)
Pandangan Ulama yang Berbeda
Catatan ini bersandar pada dua sumber akademik yang independen: entri "AzĂŽz Mahmud HĂźdâyĂŽ" dalam Ensiklopedia Islam TDV (Hasan Kâmil YÄąlmaz, jld. 4, hlm. 338-340) dan entri "HĂDĂYĂ, AzĂŽz MahmĂťd" dalam Kamus Nama-nama Sastra Turki (TEİS; Hulusi Eren). Keduanya sejalan pada garis besarnya; titik-titik perbedaannya dibiarkan tampak di bawah ini â pada tempat seperti itu atlas tidak memilih satu sumber lalu menyembunyikan yang lain.
Tempat Pendidikan Awalnya
TDV menulis bahwa beliau memulai pendidikan awalnya di Sivrihisar, tempat beliau menjalani masa kecil; TEİS mencatat bahwa beliau menerima pendidikan dasarnya di Ĺereflikoçhisar. Kedua sumber sepakat mengenai tempat lahir (Ĺereflikoçhisar) dan pendidikan madrasah di Istanbul, dan berbeda mengenai tempat sekolah pertamanya.
Kadi Bursa
TEİS menyebut bahwa setelah gurunya NâzÄąrzâde wafat, HĂźdâyĂŽ diangkat menjadi kadi Bursa, dan tak lama kemudian meninggalkan jabatan itu untuk berbaiat kepada Ăftâde. Pengangkatan ini tidak disebut dalam entri TDV; di sana jabatannya di Bursa adalah guru besar madrasah dan naib Mahkamah Câmi-i AtĂŽk. Kisah "Kadi HĂźdâyĂŽ" dalam manakib sejalan dengan garis TEİS; diamnya TDV memberi kesan bahwa pengangkatan itu mungkin diperselisihkan.
Pernikahannya dengan AyĹe Sultan
Kedua sumber menyampaikan â dengan catatan "diriwayatkan" â bahwa beliau menikah dengan AyĹe Sultan (w. 1006/1598), cucu Sultan SĂźleyman al-Qanuni dari putrinya Mihrimah Sultan. Jadi pernikahan ini bukan informasi yang pasti, melainkan riwayat yang masuk ke dalam sumber.
Urutan Dua Riwayat Baiat
TEİS menulis dengan tegas bahwa tidak diketahui secara pasti mana di antara dua riwayat â mimpi atau perkara talak â yang terjadi lebih dahulu; dan menyatakan bahwa riwayat yang tersebar adalah yang dimulai dengan peristiwa haji/talak lalu berujung pada Ăftâde melalui arahan Mehmed Dede si tukang sol.
Penisbatan Vâkiât
VâkĹât, yang tersusun dari catatan majelis gurunya Ăftâde, dengan ungkapan TDV "umumnya dinisbatkan kepada HĂźdâyĂŽ" â artinya ia berupa catatan, bukan karangan, dan penisbatannya tidak mutlak. Kedua sumber juga berbeda mengenai nomor naskah: TDV menunjuk Perpustakaan HacÄą Selim AÄa, HĂźdâÎ Efendi no. 250, sedangkan TEİS memberi no. 249.
Daftar Sultan
TDV menyebut sultan-sultan yang beliau tulisi: Murad III, Ahmed I dan Osman II; TEİS menambahkan Mehmed III dan Murad IV ke dalam daftar. Kedua sumber sepakat bahwa beliau menyandangkan pedang kesultanan kepada Murad IV dan menyertai Ferhad PaĹa dalam Ekspedisi Tabriz.
Masjid Sultan Ahmed
Bahwa beliau membaca khotbah pertama pada pembukaan (1024/1616) terdapat dalam kedua sumber. Kehadirannya pada upacara peletakan batu pertama (1018/1609) terdapat dalam TEİS; nama wazir yang disebut dalam kalimat itu tidak diulang di sini karena dalam sumber-sumber sekunder ditulis berbeda â atlas tidak memperbaiki maupun menukil kemungkinan kekeliruan penulisan pada sumbernya.
Angka-angka
"Tujuh sultan mencium tangannya" dan "170.000 murid" dinukil dari Seyahatnâme Evliya Ăelebi; demikian pula "hampir enam puluh khalifah saat wafatnya" disampaikan dengan catatan riwayat. Angka-angka ini bukan sensus historis, melainkan ungkapan kesaksian sezaman dan ketenaran.
Tanggal Wafat
Kedua sumber sepakat pada Safar 1038 / Oktober 1628. Karena hari tidak disebutkan, catatan wafat dalam atlas menyimpan bulan Hijriah (Safar) dan membiarkan kolom hari kosong â hari yang tidak diketahui tidak direka-reka.
Karya
Sumber
- TDV İslâm Ansiklopedisi (DİA) â Hasan Kâmil YÄąlmaz ¡ jil. 4, hlm. 338-340, entri âAzĂŽz Mahmud HĂźdâyĂŽâ
- TĂźrk EdebiyatÄą İsimler SĂśzlĂźÄĂź (TEİS) â Hulusi Eren ¡ entri âHĂDĂYĂ, AzĂŽz MahmĂťdâ
- TDV İslâm Ansiklopedisi (DİA) â M. Baha Tanman ¡ jil. 4, hlm. 340-343, entri âAzĂŽz Mahmud HĂźdâyĂŽ KĂźlliyesiâ
Setiap catatan bersumber (Sumber Wajib).
