Ulama sufi terkemuka di dunia Melayu-Aceh (sekitar 1570 – 1630). Lahir di Pasai (Aceh Utara), ia menjabat Syaikhul Islam, mufti, dan qadi, penasihat utama istana Kesultanan Aceh pada masa Sultan Iskandar Muda (1607–1636) (id.wikipedia, "Syamsuddin As-Sumatrani"; makalah akademik JESP 2021). Sebagai murid dan penafsir Hamzah Fansuri, ia adalah tokoh utama yang menyistematisasi ajaran wujudiyyah (wahdatul wujud) dan "martabat tujuh" di dunia Melayu, menulis dalam bahasa Melayu-Jawi, Arab, dan Persia. Ia wafat pada 1630 saat kampanye Aceh melawan Melaka yang dikuasai Portugis; pin tidak diberikan karena letak makamnya (Melaka / Pulau Sangiang) masih diperdebatkan.
