Wali besar berdarah Sunda dan orang pertama yang menyebarkan tarekat Syattariyah (Şattâriyye) di Jawa Barat (sekitar 1650 – 1730). Ia murid Syekh Abdurrauf al-Singkili di Aceh dan tokoh pertama yang membawa Syattariyah serta ajaran "Martabat Tujuh" ke Jawa (id.wikipedia, "Abdul Muhyi"; makalah akademik "Shattariyah Tradition on West Java"; situs pariwisata resmi Kabupaten Tasikmalaya). Sekitar 1690 ia menetap di Safarwadi/Pamijahan, menggunakan Gua Safarwadi untuk khalwat dan mendirikan salah satu pesantren tertua di Tasikmalaya selatan. Kompleks makamnya menjadi tempat ziarah besar, terutama menjelang Ramadan dan saat Maulid; koordinat yang diberikan setingkat pusat desa (terverifikasi OSM, perkiraan).
