Berasal dari keluarga bangsawan Martapura di Kesultanan Banjar, Muhammad Nafis al-Banjari adalah salah satu ulama tasawuf terkemuka di Kalimantan Selatan. Ia menuntut ilmu di Makkah dan Madinah serta mengamalkan tarekat Qadiriyah, Syadziliyah, Naqsyabandiyah, Syattariyah, dan Khalwatiyah. Karyanya yang paling terkenal adalah 'ad-Durr an-Nafis', kitab tauhid dan tasawuf yang menimbulkan perdebatan luas pada masanya. Ia menghabiskan masa akhir hidupnya berdakwah ke pedalaman Kalimantan dan wafat di Desa Binturu, Kelua, Tabalong. Makamnya diziarahi peziarah dari Malaysia dan Brunei. Tahun wafatnya tidak dipastikan dalam sumber, diperkirakan awal abad ke-19.
