Ulama dan penyebar Islam berpengaruh di kawasan Jatinom (Klaten), Jawa Tengah, pada masa Mataram Islam. Ia berhubungan erat dengan Sultan Agung Hanyakrakusuma dan menolak jabatan Bupati Nayaka yang ditawarkan agar tetap menjadi guru agama (id.wikipedia, "Makam Ki Ageng Gribig"; portal pariwisata Provinsi Jawa Tengah). Sepulang haji ia membagikan kue apem; setelah wafatnya hal ini menjadi tradisi Yaqowiyu yang digelar setiap Jumat pertengahan Safar, namanya diambil dari doanya "Yaa Qowiyyu" (Wahai Yang Mahakuat, berilah kami kekuatan). Makamnya di Jatinom, dari batu merah dan kayu, menjadi tempat ziarah besar dan pusat budaya.
